Oleh: Saiful Anam/Pena
Dipercaya membenahi SMA 47 Jakarta setelah sukses menjadikan SMA 70 Jakarta sebagai sekolah unggulan dan sekolah bertaraf internasional. Merubah mindset guru dengan memberi teladan.
Sosok Drs. H. Asyikin, 56 tahun, sudah tidak asing lagi di kalangan komunitas pendidikan DKI Jakarta. Bahkan para penggiat pendidikan dari provinsi-provinsi lain di Tanah Air juga sudah banyak yang mengenalnya. Namanya juga kondang di kalangan para pejabat Departemen Pendidikan Nasional.
Ya, pria bertubuh gempal itu dikenal sebagai salah satu sosok kepala sekolah hebat di Tanah Air, yang sering menjadi rujukan bagi kepala sekolah-kepala sekolah lain. Selama tiga tahun lebih, ia dipercaya sebagai Kepala SMA Negeri 70 Jakarta, salah satu sekolah paling favorit di DKI Jakarta maupun di Indonesia. Sejak pertengahan 2008, ia mendapat tugas baru menjadi kepala sekolah SMA Negeri 47 di Jalan Delman Utama, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ia bertekad menjadikan sekolah barunya itu sejajar dengan SMAN 70 dalam tiga tahun ke depan.
SMA Negeri 70, yang terletak di Jl. Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, berdiri pada tanggal 5 Oktober 1981. Ia merupakan gabungan dari dua sekolah, yakni SMAN 9 dan SMAN 11, yang lokasinya berdampingan. Namun para siswa dari kedua SMA tersebut dulu sering melakukan tawuran. Hampir tiada hari tanpa bikin keributan, sehingga masyarakat sekitarnya selalu dibikin was-was. Kegiatan belajar mengajar juga sangat terganggu, bahkan sekolah cukup sering diliburkan.
Lantaran terus-terusan bikin tawuran, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu, Prof. Dr. Daoed Joesoef, mengeluarkan keputusan menggabungkan dua sekolah tersebut menjadi SMAN 70. Penggabungan dua sekolah itu ditandai dengan diruntuhkannya tembok pembatas yang memisahkan kedua sekolah tersebut, yang kemudian disebut dengan istilah “Runtuhnya Tembok Berlin”. Kepala SMAN 70 yang pertama adalah Drs. Darmadi.
MENYATUKAN VISI
Menurut Asyikin, saat ia ditugasi menjadi Kepala SMAN 70 Jakarta pada 28 Februari 2005, pada saat itu baru didirikan dua kelas internasional. Selain itu ada pula dua kelas akselerasi. “Kelas regulernya terdiri dari 36 kelas. Saya dibantu oleh 109 guru dan 42 karyawan bagian tata usaha,” ujarnya.
Siswa-siswa yang masuk ke sekolah ini umumnya berotak cemerlang, dengan nilai rata-rata 9,1. Jumlah lulusannya yang melanjutkan ke perguruan tinggi sebesar 87,8%. Pendaftar tiap tahun rata-rata 2.500 s.d 3.000 calon siswa. Latar belakang ekonomi orang tua, sekitar 70% berasal dari golongan menengah ke atas, dan sekitar 30% rata-rata. Kurang lebih 90% orangtua murid berpendidikan sarjana. Di sekolah ini berkumpul anak-anak pejabat, politisi, pengusaha, hingga anak-anak masyarakat biasa.
Berdasarkan Surat Keputusan Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Provinsi DKI Jakarta tahun 2004, SMA Negeri 70 ditetapkan sebagai sekolah berstandar nasional plus. Kemudian disusul SK berikutnya sebagai sekolah bertaraf internasional (SBI). Namun, kata Asyikin, justru di sinilah awal permasalahan muncul. “Sebagai sekolah berstatus SBI, persoalan yang saya hadapi sungguh sangat serius, karena semua sekolah di Indonesia tidak ada yang disiapakan menjadi kelas internasional atau sekolah bertaraf internasional. Sehingga saya harus tanya kanan kiri dan terus menerus belajar, apa yang dimaksud SBI,” tuturnya.
Sayangnya, lanjut Asyikin, hingga saat ini pun belum pernah ada definisi yang komprehensif mengenai SBI. Masing-masing orang punya pemahaman sendiri-sendiri. “Yang benar-benar sekolah internasional di Jakarta cuma satu, yaitu Jakarta International School. Murid-muridnya terdiri dari berbagai bangsa”.
Sebagai kepala sekolah baru di SMAN 70 saat itu, Asyikin tidak mau tidak gegabah dalam bertindak. Ia lantas melakukan dialog dengan perwakilan guru kelas internasional yang didatangkan dari luar sekolah dan rata-rata bergelar doktor. Selain itu juga berdiskusi dengan para guru dari kelas akselerasi maupun guru-guru kelas reguler.
Setelah duduk bersama, barulah muncul satu pemahaman bahwa yang dimaksud SBI bukan sebuah label marketing, melainkan merupakan upaya pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Diharapkan ke depan kita bisa menghasilkan para siswa yang berkualitas tinggi dan dapat mengangkat derajat bangsa Indonesia.
Dalam pemahaman Asyikin, SBI adalah sekolah yang diarahkan untuk membangun orang Indonesia tetap menjadi orang Indonesia, tetapi memiliki kemampuan pola pikir internasional. Bukan diarahkan untuk membangun orang Indonesia menjadi orang asing. SMA Negeri 70 adalah sekolah pemerintah Indonesia yang harus harus mampu menghasilkan manusia Indonesia yang berwawasan internasional.
“Kami membina anak-anak Indonesia yang memiliki kultur Indonesia, tetapi diharapkan memiliki kemampuan berpikir internasional. Kami tidak ingin mengubah manusia Indonesia menjadi bule dadakan. Kita harus bangga dengan kultur dan kulit kita. Kita harus tetap bangga sebagai bangsa Indonesia,” tegasnya.
Untuk merealisasikan visinya, Asyikin lantas membentuk satu tim persiapan SBI. Ia mengakui, membawa gerbong SMAN 70 menuju SBI bukanlah perkara mudah, lantaran kebanyakan gurunya merupakan guru-guru senior yang tidak bisa dengan gampang diajak mengarungi perubahan. “Banyak guru yang sudah beranak pinak di situ, mulai awal jadi guru hingga sampai mau pensiun. Mereka pasti sudah merasa senang di situ dan enggan terhadap perubahan,” ujarnya.
Akhirnya terbentuklah tim yang menyusun SDIP (School Development Invesment Plan) atau Rencana Investasi Pengembangan Sekolah. Berikutnya, Asyikin merubah SDIP itu menjadi grand strategy pengembangan SMAN 70 menuju SBI. Pada waktu itu ia mengembangkan program SBI hingga tahun 2011.
MENENTUKAN LANGKAH
Setelah SDIP disusun, maka tahap berikutnya adalah menentukan langkah-langkah kongkrit untuk mewujudkan impian tersebut. Asyikin melakukan studi banding untuk mencari model SBI yang ideal itu seperti apa. Baru setelah studi banding, ia lantas mengeluarkan keputusan menyangkut prioritas kegiatan. “Salah satu keputusannya adalah membangun sekolah bertaraf internasional dengan tetap menggunakan kurikulum Indonesia,” katanya.
Perubahan yang juga paling mendasar dilakukan Asyikin adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM). Karena SDM merupakan komponen sangat vital untuk menuju SBI, maka Asyikin memberikan pelatihan kemampuan berbahasa Inggris secara intensif bagi para guru Matematika, IPA, Bahasa. Ia bekerjasama dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Universitas Indonesia (UI). Program ini dimulai pada tahun 2006/2007.
Persiapan lain yang dilakukan Asyikin adalah pelatihan pengembangan bahan ajar dan metodologi pengajaran. Selain itu, juga pengiriman studi banding guru-guru Matematika dan IPA ke Malaysia. “Kami sengaja mengirimkan perwakilan guru-guru ke Malaysia agar mereka memiliki wawasan yang bernuansa internasional,” kata Asyikin.
Tak ketinggalan, para guru kelas internasional tersebut juga dibekali kemampuan dalam pengembangan silabus yang harus berbeda dengan silabus pada kelas reguler. Perbedaannya menyangkut isi maupun bahasa yang digunakan, yakni bahasa Inggris.
Menurut Asyikin, kelas internasional atau SBI hendaknya jangan diidentikkan dengan kelas berbahasa Inggris. Hingga kini, lanjut dia, masih banyak orang yang berpikir bahwa ciri khas SBI adalah penggunaan bahasa Inggris dalam kegiatan pembelajaran di sekolah sehari-hari. “Anda bisa bayangkan betapa sulitnya seorang guru IPA yang sehari-hari berbahasa Indonesia, berbahasa Sunda, berbahasa Jawa, atau berbahasa Betawi, lalu harus diubah mengajarkan dalam bahasa Inggris. Menggunakan bahasa Indonesia saja kadang masih sulit dimengerti siswa, apalagi kalau harus mengajar dalam bahasa Inggris,” katanya menandaskan.
Sebagai contoh, Asyikin pernah melakukan studi banding ke sebuah sekolah yang berlabel SBI. Mereka menjumpai guru Biologi sedang mengajar dengan menggunakan bahasa Inggris. Ia ikut mendengarkan cara guru tersebut mengajar. “Saya saja yang sedikit-sedikit tahu bahasa Inggris tidak paham apa yang ia ajarkan. Ketika saya tanya, itu pakai bahasa apa Pak? Katanya pakai bahasa Inggris. Saya tanya lagi, pakai bahasa Inggris dari mana Pak, kok saya bingung?” ujarnya.
PERPUSTAKAAN DIGITAL DAN INTERNET
Asyikin juga menempatkan perpustakaan sebagai bagian sangat vital dalam mengembangkan SMAN 70 menjadi SBI. Apalagi perpustakaan merupakan jantung sekolah. Menurutnya, salah satu titik lemah yang paling menyedihkan di sekolah-sekolah kita adalah kondisi perpustakaannya.
Saat masuk di SMAN 70 awal 2005, ia melihat perpustakaan di sekolah seperti ruangan tak terjamah. “Bukunya tua-tua dan banyak debu. Kalau bukunya dipegang, kita bisa kena influenza lantaran debunya berterbangan. Saya bilang, masak sekolah yang memiliki kelas internasional kok perpustakaannya kayak begini. Padahal perpustakaan adalah jantungnya sebuah sekolah,”
Dalam pandangan Asyikin, perpustakaan harus menjadi tempat ternyaman di sekolah, baik bagi guru, murid, maupun karyawan. Perpustakaan harus sekaligus menjadi tempat beristirahat atau rileks. “Apakah konsep saya itu sesuai dengan teori atau tidak, saya tidak tahu. Pokoknya dalam pikiran saya seperti itu, dan saya mencoba membangunnya bersama teman-teman guru,” tuturnya.
Untuk merevitalisasi perpustakaan tersebut, ia lantas minta kepada komite sekolah untuk membantu pembiayaannya. Buku-buku kuno dan sudah rusak diangkut truk dikembalikan ke pemerintah, atau dibagi-bagikan ke masyarakat yang membutuhkan.
Ia juga menggandeng kerjasama dengan ITB, karena perguruan tinggi ini punya keahlian dalam mengembangkan perpustakaan digital. Ia lebih suka menggandeng kerjasama dengan perguruan tinggi karena mereka tidak bersifat “profit oriented”. Maka, dalam waktu singkat perpustakaan SMAN 70 Jakarta yang dulu tampak lusuh itu lantas disulap menjadi perpustakaan digital yang sangat lengkap. Dan berkat kerja kerasnya, perpustakaan SMAN 70 akhirnya mendapat penghargaan sebagai perpustakaan sekolah terbaik dan terlengkap di Indonesia.
Keberadaan perpustakaan digital tersebut juga ditopang oleh sarana teknologi informatika yang memadai. SMAN 70 memiliki jaringan internet yang unlimited connection. Para guru dan siswa bebas menggunakan internet kapan saja di semua sudut sekolah. “Dengan catatan, kami membeli satu alat untuk memblokir gambar-gambar yang tidak selayaknya diakses,” katanya.
SMAN 70 juga merupakan salah satu sekolah yang memiliki laboratorium IPA terlengkap di Indonesia. Untuk mendukung kegiatan pembelajaran, sekolah juga memiliki LCD. Bahkan para guru juga dibekali laptop. Khusus kelas internasional, buku-buku yang digunakan berstandar Cambridge.
Untuk menjaga lingkungan belajar agar nyaman, Asyikin juga memprakarsai SMAN 70 sebagai salah satu instansi di DKI yang bebas rokok dan narkoba. Tahun 2007, sekolah ini mendapat penghargaan dari Pemda DKI sebagai lingkungan instansi pemerintah bebas rokok terbaik se provinsi DKI Jakarta.
Asyikin juga menekankan program kebersihan lingkungan untuk mendukung terciptanya kenyamanan belajar di semua sudut sekolah. “Mengukurnya sederhana, kalau saya duduk di salah satu sudut sekolah ternyata pantat saya kotor, berarti tempat duduk tidak bersih,” tuturnya.
KUNCI SUKSES
Dalam upaya menjadikan SMAN 70 sebagai SBI, Asyikin mengaku menghadapi sejumlah kendala klasik, seperti ketersediaan dana, rutinitas kegiatan, mentalitas guru, dan lain-lain. Namun menurut dia, persoalan paling berat yang ia hadapi adalah merubah pola pikir (mindset) guru. Dan, yang lebih berat lagi adalah merubah mindset kepala sekolah.
Bagi Asyikin, merubah mindset guru cukup berat lantaran pada umumnya mereka memiliki karakteristik yang sama: tidak mau diajari atau digurui. “Di dunia ini banyak manusia yang sulit diubah, tetapi yang paling sulit diubah adalah guru”.
Untuk merubah mindset guru dan kepala sekolah, menurut Asyikin, sebenarnya resepnya sederhana saja, yakni jadikan diri kita sebagai contoh perubahan. Kalau mindset kepala sekolah sudah berubah, insyaAllah guru akan mengikutinya tanpa harus kita ajak.
Dalam posisinya sebagai tauladan, setiap hari kalau datang ke sekolah Asyikin tidak langsung masuk ke ruang kerjanya, melainkan keliling dulu ke semua sudut sekolah. Yang pertama ia perhatikan adalah tempat-tempat yang paling banyak dikunjungi siswa, misalnya toilet. Ia juga menyapa dan berdialog para karyawan bagian kebersihan sekolah, kadang diselingi sambil minum kopi bersama. Selanjutnya ia menengok ke ruang guru, menyapa mereka.
Kebiasaan rutin setiap pagi itu ia lakukan selama kurang lebih dua jam. Setelah itu baru ia masuk ke ruang kepala sekolah, dan biasanya sampai sore ia baru bisa keluar lantaran banyaknya tamu yang antri. Mereka bisa merupakan tamu lokal, bisa juga dari luar negeri. Bahkan sehari sebelum dilantik sebagai kepala sekolah di Jakarta Timur, Asyikin masih sempat menerima 29 orang calon kepala sekolah dari Malaysia yang melakukan studi banding. Setiap hari, Asyikin selalu pulang dari sekolah usai maghrib.
Selain menjadi tauladan, kiat lainnya adalah kepala sekolah hendaknya bisa mengoptimalkan peran masing-masing guru sesuai dengan potensinya. Dengan begitu, para guru akan selalu merasa dihargai.
Para guru juga selalu dilibatkan dalam mengatasi persoalan sekolah. Asyikin tidak pernah menganggap masalah yang dihadapi sekolah sebagai persoalan yang ia hadapi sendiri. Ia tidak mau berpikir sendiri, karena sekolah bukan milik pribadi. Persoalan sekolah adalah persoalan bersama.
Ia juga selalu menerapkan prinsip kesetaraan dalam bekerja. Yang membedakan adalah tanggung jawab masing-masing orang sesuai tugas dan bidang kerjanya.
Kendala lain yang juga sangat serius dihadapi seorang kepala sekolah adalah kebijakan pimpinan yang kadang-kadang tidak bisa diprediksi. Seorang kepala sekolah saat ditugaskan tidak tahu persis ia akan bertugas berapa lama: tiga tahun, empat tahun, atau lima tahun, semuanya tidak jelas. Meski begitu, ia menyarankan kepada kepala sekolah yang membawa sekolahnya menuju SBI agar membuat grand strategy selama lima tahun ke depan.
Dari seluruh upaya yang telah ia lakukan selama memimpin SMAN 70 menuju SBI, Asyikin merangkum kunci sukses itu dalam sebuah kalimat: high and uncompromised commitment (komitmen tinggi dan tanpa kompromi). Pengalaman indah Asyikin dalam membesarkan sekaligus merintis SMAN 70 sebagai SBI itu bisa menjadi rujukan bagi kepala sekolah-kepala sekolah lain di Indonesia.
Sebagai hadiah atas kerja kerasnya selama merintis dan membangun SMAN 70 menjadi SBI yang diperhitungkan, saat dipindahtugaskan ke sekolah baru di SMA 47, para koleganya di SMAN 70 menyiapkan pesta perpisahaan secara khusus. Asyikin diperlakukan bak seorang raja. Ia diantar oleh para koleganya ke sekolah baru dalam suasana yang sangat mengharukan.
SAIFUL ANAM
6 August 2008 18:12 WIB
Saturday, 22 November 2008
POLLING PEMBACA |