Kata Kunci: Bu Tjok, Guru TK Teladan, Kinerja Kepala TK
Oleh: Saiful Anam/Pena
Satu di antara segelintir guru hebat dengan prestasi segudang. Penyandang Juara I Guru TK Teladan Nasional 1987 dan Juara I Lomba Kinerja Kepala TK Tingkat Nasional 2003. TK Pembina Denpasar yang dipimpinnya terpilih sebagai Juara I Lomba Gugus TK Negeri Pembina tahun 2004.
MESKI usianya 54 tahun, namun Dra. Tjok Istri Mas Minggu Wathini, M.Pd, tetap enerjik. Ia bersemangat jika diajak berbincang tentang Taman Kanak-kanak (TK). Kepala TK Negeri Pembina Denpasar, Bali, itu memang dikenal sebagai tokoh pendidik TK. Bahkan sejak 2004 hingga sekarang, ia dipercaya menjadi instruktur nasional untuk pelatihan guru-guru TK.
Bu Tjok, demikian ibu tiga anak dan nenek enam cucu itu biasa disapa, merupakan salah satu guru TK terbaik saat ini. Selain mempunyai komitmen tinggi terhadap pendidikan TK, ia juga sukses menyabet sejumlah penghargaan bergengsi. Tahun 1987, ia berhasil meraih Juara I Guru TK Teladan Nasional. Berikutnya, tahun 2003, ia merengkuh juara pertama Lomba Kinerja Kepala TK Tingkat Nasional. Setahun kemudian, Depdiknas menggelar Lomba Gugus TK Tingkat nasional, dan TK Negeri Pembina Denpasar merebut juara I.
Bu Tjok juga rutin dua tahun sekali diundang pemerintah Brunai Darussalam untuk memberikan pelatihan bagi guru-guru TK di sana. Ia sudah lima kali datang ke sana. Berbagai penghargaan yang diperolehnya, membuat ruang kerja Bu Tjok tampak dijejali puluhan piala dan piagam.
Mengintip dari Kantin
Bu Tjok lahir di Denpasar, 27 September 1953. Ia anak kelima dari 16 bersaudara. Ayahnya, Tjokorda Gde Oka (alm), semasa hidup bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Sedangkan ibunya, Tjokorda Istri Muter (alm), bekerja sebagai guru dan terakhir menjabat Kepala SD Negeri XII Denpasar.
Ayah Bu Tjok beristri dua, yang keduanya adalah kakak beradik. Tjokorda Istri Muter adalah istri pertama. Sedangkan istri kedua bernama Tjokorda Istri Ngurah, juga seorang guru SD. “Mungkin Anda kaget, karena di Jawa atau daerah lain yang berpenduduk muslim, pasti dilarang. Tapi di Bali tidak apa-apa,” katanya. Provinsi yang terkenal sebagai daerah wisata eksotik itu mayoritas penduduknya beragama Hindu.
Dari perkawinannya dengan istri pertama, Tjokorda Gde Oka dikaruniai 12 anak. Sedangkan dari istri kedua ia mempunyai empat anak. Bu Tjok bangga dengan kedua ibunya. “Sejak kecil saya sudah punya dua ibu. Saya tak pernah melihat keduanya bertengkar. Mereka benar-benar rukun,” katanya.
Pada usia 7 tahun, Bu Tjok masuk ke Sekolah Rakyat (SR), yang sekarang menjadi SD Negeri XII Denpasar. Kepala sekolahnya waktu itu ibunya sendiri. Ia sangat mengagumi sang ibu. “Ibu saya kan guru lama. Kalau mengajar pakai kebaya. Beliau sangat berwibawa. Semua murid sangat hormat. Ibu saya juga sabar dalam membimbing anak-anak,” kenang Bu Tjok, seraya menambahkan waktu di SD ia masih belum punya cita-cita menjadi guru, hanya sebatas kagum pada ibunya.
Setelah lulus dari SR tahun 1965, ia kemudian melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Umum Bawah (SLUB, setingkat SMP) Saraswati, Denpasar. Ketika duduk di bangku SLUB itulah ia mulai tertarik menjadi guru. SLUB itu berada dalam satu kompleks Perguruan Rakyat Saraswati, yang di dalamnya terdapat pula TK, SD, SMA, SGTA (Sekolah Guru Taman Atas), hingga perguruan tinggi.
Lokasi TK Saraswati persis berhadapan dengan kantin sekolah. Jika jam istirahat tiba, Bu Tjok kerap jajan di kantin sambil mengintip guru TK yang tengah mengajar murid-muridnya. Ia melihat ada seorang guru TK yang sangat sabar. “Lebih sabar dari ibu saya,” katanya.
Hari-hari berikutnya, Bu Tjok semakin keranjingan mengamati cara guru tersebut mengajar, menangani anak-anak yang berlari-lari, anak-anak yang berantem, dan ada pula anak-anak yang menangis. Saat itu ia membayangkan, betapa senangnya menjadi murid TK yang diajar oleh guru yang sabar. Begitu pula, betapa senangnya menjadi guru TK yang setiap hari bertemu dengan anak-anak yang polos dan lucu-lucu. Maka, sejak itu dalam hatinya pun muncul keinginan kuat untuk menjadi guru TK. Waktu kecil, Bu Tjok memang tidak sempat mengenyam pendidikan di TK lantaran lokasinya terlalu jauh dari rumahnya.
Tekad Bu Tjok menjadi guru TK sudah bulat. Setelah lulus dari SLUB Saraswati tahun 1968, ia lantas melanjutkan ke SGTA Saraswati, yang masih berada dalam satu kompleks Perguruan Rakyat Saraswati. Bu Tjok menduga, nama “Taman” pada STGA itu bermakna TK, sehingga setelah lulus nanti menjadi guru TK. Ia tekun belajar, dan pada akhir catur wulan pertama meraih juara umum.
Namun, sekolah yang dimasuki Bu Tjok itu ternyata tak sesuai harapannya. SGTA ternyata mempersiapkan lulusannya menjadi guru SD. Ia mendapat penjelasan itu setelah menanyakan kepada gurunya, usai mendapat penghargaan sebagai juara umum pada akhir Cawu I. “Tentu saya agak kecewa. Saya kemudian tanya ke guru-guru, di mana saja SPG yang ada jurusan TK-nya. Ternyata, waktu itu di Bali memang belum ada. SPG TK baru ada di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung,” tuturnya.
Paling dekat dengan Bali, ya Surabaya. Kebetulan dua kakaknya, Tjokorda Gde Putra Kayatrisna dan Tjokorda Gde Payana, waktu itu tengah kuliah di kota buaya. Bu Tjok meminta mereka mencarikan informasi tentang sekolah guru TK di Surabaya. Dari kakaknya itulah Bu Tjok akhirnya tahu bahwa sekolah yang dimaksud adalah Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri 2, di Jl Argopuro Surabaya. “Menginjak catur wulan dua, saya pindah ke SPG Negeri 2 Surabaya. Saya ingat, saat itu kepala sekolahnya Pak Sumardjo,” katanya.
Ada yang khas dari SPG Negeri 2 Surabaya ini: seluruh muridnya perempuan. “Saya sangat menikmati. Selain bidangnya cocok dengan cita-cita saya, di SPG tersebut juga ada TK latihannya. Jadi, saya bisa langsung praktik mengajar di TK,” ujar Bu Tjok. Setelah lulus tahun 1971, ia kembali ke Denpasar.
Merintis TK Desa
Setelah kembali ke Denpasar, ia segera mencari TK di sekitar kampunya. Namun waktu itu di Bali belum banyak TK. Ia justru mendapat jodoh duluan, dan menikah dengan Tjokorda Rai Pemayun, SH, pada tahun 1973. Suaminya saat itu masih bekerja sebagai pegawai honorer. Sang suami yang kini sudah pensiun itu terakhir menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kabupaten Klungkung, Bali.
Tuhan rupanya sudah menggariskan jalan hidup Bu Tjok menjadi guru TK. Awalnya, pada tahun 1974, ia diminta menjadi guru TK di Desa Sumerta, Kabupaten Badung (sekarang masuk wilayah Kota Denpasar). TK baru yang diberi nama TK Putra Udyana itu didirikan oleh ibu-ibu PKK Desa Sumerta. Lokasinya di balai desa (pendopo), yang di Bali dikenal dengan Wantilan. TK ini didirikan serba mendadak, karena untuk memenuhi persyaratan mengikuti lomba desa se-Kabupaten Badung.
Cerita sampai ditariknya Bu Tjok menjadi guru TK Putra Udyana tersebut bermula ketika Kepala Desa Sumerta, Ida Bagus Raka Weda, bertandang ke rumah ayah mertuanya, Tjokorda Gde Oka Winarya, SH. Dari obrolan singkat, kepala desa tadi menanyakan apakah menantunya, Bu Tjok, yang baru lulus SPG sudah bekerja. “Masih belum,” jawabnya. Beberapa hari kemudian, Pak Kepala Desa menawari Bu Tjok agar mau mengajar di TK yang akan didirikannya. Bu Tjok pun menyanggupi.
Tak berapa lama, anak-anak Desa Sumerta berusia 4 – 6 tahun dikumpulkan di balai desa, berjumlah 75 anak. Bu Tjok langsung diminta mengajarnya. “Saat itu saya menangani sendiri, tapi saya senang sekali. Saya betul-betul memulai dari nol. Mulai hari itu saya mencoba menerapkan ilmu yang saya dapatkan di bangku sekolah,” katanya.
Sebagai guru satu-satunya, Bu Tjok langsung merangkap sebagai Kepala TK. Beberapa hari kemudian, ia mendapat guru tambahan. Karena digunakan untuk TK, Wantilan atau balai desa yang biasanya dipakai untuk kegiatan rapat disekat-sekat menjadi beberapa kelas.
Sebagai guru sekaligus kepala TK, Bu Tjok aktif dalam berbagai kegiatan dan lomba TK se Kabupaten Badung. Aktivitasnya itu kemudian membuatnya dilirik oleh pengurus PKK Kabupaten Badung. Bu Tjok lantas disertakan dalam berbagai pelatihan bagi guru-guru TK di Kabupaten Badung. Beberapa kali ia mengikuti pelatihan, dan setiap pelatihan selalu dipilih 10 peserta terbaik. “Syukurlah, saya selalu menjadi yang terbaik dari 10 besar itu,” katanya.
Atas prestasi mengilap yang diraih Bu Tjok, PKK Kabupaten Badung lantas memberi bantuan sarana dan prasarana kepada TK Putera Udayana. Akhirnya, pada tahun 1975, TK yang semula dilaksanakan di Wantilan itu kemudian dipindahkan ke bangunan baru tak jauh dari balai desa Sumerta. Murid-muridnya pun melonjak luar biasa. Bu Tjok yang usianya masih sangat muda sudah tampil menjadi sosok guru idola baru dan menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Kabupaten Badung.
Kenangan di TK Bhayangkari
Sayang, kebersamaan Bu Tjok dengan TK Putra Udyana harus berakhir pada 1976. Bersama suami, ia terpaksa balik ke rumah orangtuanya di Kelurahan Sanglah, Kabupaten Badung. Maklum, sebagai keluarga muda, jika masih bertahan di Desa Sumerta, Bu Tjok merasa cukup berat. Suaminya yang saat itu masih pegawai honorer, penghasilannya belum mencukupi. Ketika harus membayar kontrakan rumah lagi, mereka kesulitan. “Kami tidak punya uang untuk melanjutkan kontrakan,” kenang Bu Tjok. Untuk tetap mengajar di TK Sumerta, juga berat karena lokasinya cukup jauh dari Kelurahan Sanglah.
Namun, kalau seseorang punya potensi bagus, tak perlu lama-lama mendapatkan pekerjaan baru. Begitu pula yang dialami Bu Tjok. Kepindahannya ke Sanglah rupanya didengar oleh jajaran ibu-ibu PKK Kabupaten Badung, termasuk pengelola TK Bhayangkari yang berada di bawah naungan Kepolisian Daerah (Polda) Provinsi Bali. Kebetulan, rumah orangtua Bu Tjok dekat dengan asrama polisi, sehingga kenal juga sejumlah istri perwira polisi.
Beberapa hari kemudian, pengelola TK Bhayangkari menawari Bu Tjok untuk bergabung. Apalagi pihak pengelola TK menyediakan mobil antar jemput, sehingga Bu Tjok pun bersedia. Ia mengajar di TK Bhayangkari Polda Bali sejak 1976 hingga 1990.
Banyak kenangan manis yang diraih Bu Tjok selama bergabung dengan TK Bhayangkari. Tahun 1979, ia diangkat menjadi guru TK berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan secara resmi ditempatkan di TK tersebut. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi Kepala TK Bhayangkari.
Aktivitasnya yang padat dan prestasinya yang gemilang dalam berbagai lomba antar TK maupun antar guru TK se Kabupaten Badung, kemudian membuatnya diusulkan menjadi guru teladan. Awalnya, pada 1987, ia mengikuti lomba guru teladan tingkat Kecamatan Denpasar Timur, lalu tingkat Kabupaten Badung, dan tingkat Provinsi Bali. Bu Tjok selalu meraih predikat terbaik. Berikutnya, ia mewakili Bali mengikuti Lomba Guru Teladan Nasional 1987, dan sukses merebut juara I. Ruarrr biasa!
Saat masih bertugas di TK Bhayangkari itu pula, Bu Tjok melanjutkan pendididikannya ke jenjang S-1. Ia mengambil bidang Teknologi Pendidikan di Universitas Saraswati, Bali, dan lulus tahun 1988.
Bu Tjok mengakhiri tugasnya sebagai Kepala TK Bhayangkari Polda Bali tahun 1990, karena mendapat tugas baru sebagai Kepala TK Negeri Pembina Denpasar. Pejabat yang digantikan Bu Tjok, I Gusti Ayu Made Rathini, menempati pos baru sebagai Pengawas TK/SD Kabupaten Badung. “Jadi saya mengabdikan diri di TK Pembina Denpasar ini sudah 16 tahun,” ujarnya.
Untuk meningkatkan kompetensinya, selain kerap mengikuti berbagai pelatihan, Bu Tjok juga melanjutkan studinya ke jenjang S-2 di Universitas Dr. HAMKA Jakarta (Uhamka). Tapi ia menempuh kuliah jarak jauh di Bali. Ia merengkuh gelar Magister Pendidikan tahun 2003.
Menjadikan Rujukan
TK Negeri Pembina Denpasar diresmikan pada 28 November 1981 oleh Prof. Dr. Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI saat itu. TK yang terletak di Jalan Daha Lumintang, Denpasar, itu berdiri di atas lahan 1.600 m2. Tahun 2006, TK ini memiliki 12 guru. Mereka terdiri dari 7 orang guru PNS (termasuk kepala sekolah), 2 orang guru honorer tetap, dan 3 orang guru honorer tidak tetap (bahasa Inggris, menari, dan menggambar).
TK ini mempunyai tiga kelas yang terdiri dari 76 murid. Kelompok A (4-5 tahun), satu kelas. Kelompok B (5-6 tahun), dua kelas. Setiap tahun kebanjiran pendaftar, sehingga cukup banyak yang tidak tertampung. TK tersebut memiliki sarana pembelajaran dan bermain yang komplit.
Sebagai Kepala TK Negeri Pembina, Bu Tjok sadar betul ia dituntut menjadikan lembaga pendidikan yang dipimpinnya sebagai rujukan bagi 184 TK lain di Bali. Upaya yang dilakukan antara lain dalam kegiatan pembelajaran terdiri dari empat pilar: pembinaan rohani, pengembangan kreativitas, peningkatan mutu sumberdaya manusia (SDM), dan pelaksanaan kegiatan bersama antara murid, guru, dan orangtua murid.
Misalnya, pada hari-hari tertentu para guru dan murid memakai pakaian adat. “Selain itu, setiap sebulan dua kali kita melakukan sembahyang bersama. Yang Hindu memakai pakaian sembahyangnya. Bagi yang muslim memakai pakaian muslim. Begitu pula yang beragama Kristen memakai pakaiannya. Kita ajarkan sejak dini bahwa perbedaan itu indah,” ujarnya.
Dalam kegiatan pembelajaran, anak-anak juga diajak melakukan praktik atau mengalami sendiri langsung. Misalnya, anak-anak diajak ke hutan menanam pohon, ke pantai, ke bandar udara, berkemah, dan lain-lain. Dengan melibatkan anak-anak dalam pengalaman langsung, selain menjadikan pembelajaran mengasyikkan, juga merangsang mereka untuk meretas cita-cita setinggi-tingginya.
Begitu pula dengan kemampuan baca-tulis-hitung (calistung), TK Pembina Denpasar tidak mengajarkan calistung secara formal. “Tapi kami memberikan persiapan permulaan calistung dengan pendekatan belajar yang menyenangkan,” katanya.
Ia mengakui, ada sebagian TK swasta di Bali yang masih mengajarkan calistung dengan dalih untuk promosi, keinginan orangtua murid, atau alasan lain. Kebetulan Bu Tjok juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Provinsi Bali, sehingga tahu persis perkembangan dan persoalan TK yang muncul di lapangan.
Di Bali ada 185 TK yang hampir seluruhnya merupakan TK swasta. Melalui forum IGTKI, Paguyupan TK, dan Paguyuban Komite Sekolah, Bu Tjok kerap mengingatkan bahayanya mengajarkan secara paksa baca-tulis-hitung kepada anak-anak pada jenjang TK. “Kalaupun mengajarkan, harus dengan cara bermain dan sesuai kesenangan anak. Jadi harus berangkat dari minat dan kesiapannya,” katanya. Ia menambahkan, jika guru memaksakan untuk mengajar calistung di TK, selain keliru dan membahayakan perkembangan anak, hal itu juga menyalahi UU Perlindungan Anak.
Dukungan Komite Sekolah
Bu Tjok mengakui, keberhasilannya meraih sejumlah prestasi gemilang juga berkat dukungan komite sekolah, terutama dari Anak Agung Ngurah Gde Widiada dan I Gusti Ngurah Wirandjaya, SH, yang masing-masing menjabat ketua dan wakil ketua komite sekolah. “Kehadiran kami untuk meringankan beban orangtua murid, sekaligus menjadi mediator sekolah dalam memfasilitasi pembelajaran,” kata Anak Agung Ngurah Gde Widiada, yang sehari-hari menjadi anggota DPRD Provinsi Bali dari Partai Golkar.
I Gusti Ngurah Wirandjaya menambahkan, Bu Tjok selama ini juga telah melibatkan komite sekolah secara aktif dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). “Kami dilibatkan mulai dari perencanaan program sampai evaluasinya,” ujar I Gusti Ngurah Wirandjaya, mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Badung yang kini menekuni profesi baru sebagai pengacara.
Sebagai contoh, setiap tahun sebelum memulai kegiatan pembelajaran, pihak sekolah bersama komite sekolah mengumpulkan orangtua murid. Dalam forum itu, mereka diberitahu program-program pembelajaran yang akan dijalankan. “Jika mereka setuju, mereka wajib menandatangani untuk ikut berperan aktif di sekolah. Jadi semacam kontrak,” kata Bu Tjok.
Untuk melaksanakan kegiatan di luar sekolah, koordinasinya dilakukan oleh komite sekolah. Dengan begitu, Bu Tjok berusaha menjadikan TK Negeri Pembina Denpasar sebagai tanggungjawab bersama. “Kita tumbuhkan rasa kebersamaan, rasa memiliki, kekeluargaan, tanggung jawab, dan berperan aktif,” ujarnya.
Kini, Bu Tjok hidup bahagia bersama suami tercinta. Jika waktu senggang, ia berkumpul bersama tiga anak dan enam cucunya. Tiga anaknya adalah Tjokorda Istri Tuty Rismaya Dewi Pemayun, SS, Tjokorda Gde Risma Wardhana Pemayun, SE, dan Tjokorda Istri Novia Dewi Rismawati Pemayun, SE. Sedangkan enam cucunya adalah I Dewi Gde Prama Adi, I Dewa Ayu Prameswari, Tjokorda Gde Suryanatha Pemayun, Ida Bagus Mahendra Putra, Ida Ayu Cintya, dan Ida Ayu Dewi.
SAIFUL ANAM (Denpasar)
2 June 2008 12:01 WIB
Wednesday, 20 August 2008
POLLING PEMBACA |