Kata Kunci: FIGUR, pendidikan anak usia dini
Oleh: MF Arief/Pena
Gerah pada tayangan televisi berisi kekerasan. Lahir dari keluarga guru. Sejak mahasiswa sudah mengajar di SD. Pindah jalur mengajar sebagai dosen di IKIP Jakarta. Perintis lahirnya S-1 jurusan Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Negeri Jakarta. Tak punya usaha sambilan.
Kegelisahannya semata-mata karena ia mengkhawatirkan nasib perkembangan anak. Prof. Dr Soegeng Santoso memang dikenal sebagai tokoh yang aktif di bidang pendidikan anak. Ia juga pendiri lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD).
Dalam pandangan seorang Soegeng Santoso, pendidikan anak usia dini benar-benar menjadi dasar dari keseluruhan pendidikan. Melalui pendidikan anak usia dini itulah terjadi proses pembentukan karakter, pribadi, norma tentang berakhlak mulia serta budi pekerti luhur.
“Sifat-sifat dasar itu bisa ditanamkan sejak anak usia dini. Bahkan secara tidak langsung sudah dibiasakan pada saat ibu sedang hamil,” kata Guru Besar Universitas Negeri Jakarta ini ketika ditemui Majalah MISI, pada Rapat Koordinasi Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal, Ditjen PMPTK, Depdiknas, beberapa waktu lalu.
Meski Prof Sugeng gerah dengan tayangan televisi, ia tak melarang anak agar tidak menonton televisi. Sebab lewat sarana televisi, berbagai pengenalan teknologi dari negara luar bisa disaksikan. Hanya saja perlu satu syarat: selektif. “Termasuk film-film yang boleh ditonton anak, harus selektif dong. Jangan sampai tayangan untuk orang dewasa ditonton anak. Akhirnya anak-anak sudah menyanyi cinta-cintaan,“ kata pria kelahiran Bantul, 6 Januari 1942.
Jika sampai anak bebas menonton televisi tanpa filter, menurut Sugeng, anak tak bisa disalahkan sebab menirukan merupakan salah satu kemampuan anak-anak. Permasalahannya seringkali anak-anak asal meniru dan tidak tahu risikonya. Sugeng berharap pada peran orangtua.
“Di lingkungan keluarga, kelompok bermain, sudah mendidik anak yang baik-baik, hati-hati, kasih sayang, pendekatan selalu senyum, senang. Ketika melihat tayangan tv kok ada anak diperlakukan seperti itu. Ini kan kontradiksi. Oleh karena itu saya setuju di tayangan di televisi yang berkaitan dengan anak usia dini harus lebih ketat,” kata Soegeng.
Kepedulian Sugeng Santoso pada kanak-kanak usia dini itu jauh sebelum hadirnya lembaga PAUD. Lembaga PAUD mulai marak di Tanah Air sejak diluncurkannya bantuan Bank Dunia, melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 1996. Di jajaran pejabat pemerintah, di antaranya yang terlibat adalah dr. Fasli Jalal, Ph.D. Ketika itu, ahli gizi lulusan Universitas Cornell, Amerika Serikat, itu menjabat Kepala Biro Agama, Pendidikan, Kebudayaan dan Olahraga Bappenas.
Nah, Sugeng Santoso mendukung kelahiran PAUD dari sisi kependidikan. Ketika itu, di IKIP Negeri Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta), Sugeng Santoso adalah salah satu perintis kelahiran diploma Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak (PGTK). Ia juga mendorong kelahiran S-1 PAUD di Universitas Negeri Jakarta, pada 1999. Hingga saat ini Sarjana PAUD baru dibuka di UNJ.
Ia turut terlibat mendirikan S-1 PAUD di perguruan tinggi lain. Saat ini sudah ada beberapa perguruan tinggi, antara lain di Bandung, Gorontalo, Semarang, Malang yang bersiap-siap menyiapkan diri membuka S-1 PAUD.
Jauh sebelum itu, Prof Soegeng telah lama aktif dan berkomitmen membangun dunia pendidikan anak. Ia juga akitif sebagai pembina Pramuka. Hingga kini nama Prof Sugeng tercatat sebagai pembina mahir dan pelatih nasional Pramuka tingkat siaga.
Kecintaannya pada pendidikan anak ia wujudkan dengan mendirikan Kelompok Remaha Cinta Anak alias Kejar Cinta. Kerjar Cinta didirikan bersama tokoh pemerhati anak, Kak Seto Mulyadi. Pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Ilmu Kependidikan di UNJ pada 2000 lalu, judulnya juga bertema anak, yakni ”Pendidikan Anak Usia Dini di Masa Mendatang.”
Mengenai cara yang tepat dalam mendidik anak, menurut Sugeng, harus memperhatikan irama perkembangan anak. Dengan mengetahui hal itu akhirnya mampu memilah-milah pendidikan yang tepat bagi tiap-tiap anak seperti apa.
Ia sangat menyayangkan sikap segelintir orangtua yang berambisi hingga memaksakan anaknya untuk belajar hal yang harusnya belum saatnya. Hal tersebut menurutnya sangat fatal. “Ada masa yang namanya masa peka. Kalau dipaksakan anak untuk belajar membaca berhitung di TK, namun anak belum mampu, nanti bisa membuat anak takut sekolah. Di SD bisa juga takut sekolah. Kalau masa peka anak bagus tidak masalah, di SD sudah bagus. Tapi tak semua anak seperti itu,” katanya.
Menurut Sugeng, setiap keluarga, sekolah, dan masyarakat sudah seharusnya mempunyai pengetahuan dan pengalaman bagaimana cara membimbing, mendidik anak usia dini. “Saya berusaha menyebarluaskan pengetahuan mendidik anak ke masyarakat luas,” katanya.
TIM AKADEMISI
Berkat keahlian dalam bidang pendidikan anak usia Profesor Soegeng Santoso menjadi salah satu anggota Tim Akademisi PTK PNF. Di tim tersebut ia dipercaya sebagai koordinator. Sejak tahun 2007 lalu, ia masuk dalam anggota tim.
Ada banyak konsep pemikiran yang ia berikan. Salah satunya menyangkut penyelenggaraan Jambore PTK PNF. Ia benar-benar menekankan inti dari Jambore tersebut bukan sebagai ajang cari prestasi namun lebih untuk memperkuat persaudaraan, silaturahmi dan saling memberi informasi. “Kalau mau cari prestasi itu di PON. Jambore itu pertemuan untuk persaudaraan bukan untuk menciptakan Rudi Hartono,” katanya.
Memang Jambore PTK PNF sekarang ini sangat terasa manfaatnya. Hal itu juga digarisbawahi oleh ayah dari tiga anak tersebut. Melalui Jambore PTK PNF, seluruh pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal mulai terdengar gaungnya, hingga ke pelosok negeri.
Melihat perkembangan pendidikan nonformal dan informal, Soegeng cukup gembira. Menurutnya, sekarang ini sudah semakin nyata kebangkitannya. “Adanya tiga jalur pendidikan, berarti sama antara pendidikan nonformal, pendidikan informal, dan pendidikan formal. Sebab sudah diatur UU. Pendidikan nonformal sedang nauk daun, sudah gigih sehingga mulai dipercaya, dihargai dan yang penting harus menjaga diri,” katanya.
Sebagai tim akademisi tugasnya memberikan saran dan masukan. Tugasnya selama ini memantau, misalnya program ini sarannya ini, terus nanti pelaksanaannya mau kemana jadi dari bidang pelaksanaan, perencanaan dan evaluasi. Misalnya pelaksanaan Jambore, bantuan-bantuan yang kelompok perorangan bergerak di bidang non formal apalagi kursus-kursus kan banyak sekali.
AWALNYA GURU SD
Soegeng Santoso dilahirkan di Bambanglipuro,Bantul, pada 6 Januari 1942. Desa kelahirannya tak jauh dari jalan menuju pantai Parangtritis. Kampung halamannya itu termasuk wilayah yang porak-poranda akibat diguncang gempa bumi, 27 Mei 2006. Ia anak kedua dari enam bersaudara. Keluarganya tergolong keluarga besar. Sebenarnya ada dua lagi saudaranya, namun sudah meninggal.
Nama Soegeng Santoso lahir rada-rada unik. Dulu ia sempat memiliki dua buah nama, di akta kelahiran tertulis namanya Santoso tapi di ijazah namanya Soegeng. Perbedaan nama tersebut akibat dirinya yang sering sakit-sakitan. Menurut kepercayaan para tetua keluarganya, ia harus berganti nama. Maka ia dinamai Soegeng. Menjelang pengangkatan menjadi pegawai negeri sipil (PNS), ia memilih nama resmi Soegeng santoso.
Hampir sebagian besar saudara-saudara Soegeng menjadi guru. Bapaknya memang guru. Maka tak heran sejak awal ia sudah bercita-cita menjadi seorang guru. Cita-cita itulah yang mengantarkan Soegeng menjalani pendidikan di jalur kependidikan. Selepas lulus SD ia masuk Sekolah Guru B (SGB), dan berlanjut ke Sekolah Guru AA. “SGB saya tamat tahun 1959 di Yogyakarta. Terus masuk SGA,” Setelah lulus SGA, ia kuliah di Jurusan Pedagogik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta angkatan 1962.
Setelah tamat dari UGM ia pindah ke Jakarta. Di Jakarta inilah ia melanjutkan jenjang kependidikan hingga S3 di Universitas Negeri Jakarta. Soegeng menikah dengan Siti Waromah teman sekolah dan kuliahnya dulu. Dari hasil pernikahannya tersebut ia dikaruniai 3 orang anak dan 5 orang cucu.
Jenjang karier Soegeng dimulai dengan menjadi guru sebuah SD di Kota Gede, Yogyakarta tahun 1964-1968. Ia mengajar sembari kuliah. “Setelah dua tahun mengajar saya diangkat jadi guru PNS,” katanya mengenang. “NIP saya pegawai sebagai guru SD. Jadi saya pegawai daerah yang digaji oleh daerah.”
Ketika ia keluar dari lingkungan pendidikan dasar urusannya dengan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun 1968, Soegeng meninggalkan guru, dan mulai menekuni sebagai dosen di IKIP Jakarta. “Dedikasi saya memang menjadi guru. Saya tidak punya sambilan lain-lain kecuali di bidang pendidikan,” kata Soegeng.
MF. ARIEF
5 May 2008 11:25 WIB
Wednesday, 20 August 2008
POLLING PEMBACA |