Kata Kunci: ciuman, hubungan suami istri, petting, remaja aborsi, siswi hamil
Oleh: Dipo Handoko dan MF Arief/Pena
Remaja semakin berani melakukan hubungan seksual. Ciuman di bibir harus ada dalam pacaran. Hanya untuk gengsi dan having fun. Sebanyak 88,9% responden Jogjakarta pernah berhubungan seksual, 75% di antaranya melakukan dua tiga kali. Remaja hamil tak dihendaki diduga jumlahnya semakin banyak.
WIWIEK Andini tak membayangkan kemesraan dan kenikmatan hubungan intim yang direguk bersama pacarnya berakhir duka. Dua ABG lawan jenis, yang sama-sama siswa kelas III SMP di Bulukumba, Sulawesi Selatan, itu hanya sesaat bisa bermesra-mesraan. Setelah Wiwiek hamil, pacarnya malah ngabur.
Selang sebulan baru ketemu, lantas menikah. Tapi belum sampai sang jabang bayi lahir, pacar Wiwiek pindah sekolah ke Makassar. Lantaran tak pernah lagi nongol dan memberi nafkah, status pernikahannya pun dianggap telah bercerai. Bayi mungil yang kini berusia 1,5 tahun itu pun belum mengerti di mana ayahnya.
Kasus serupa juga dialami Astuti, pelajar SMA di Jogjakarta. Astuti juga hamil di luar nikah. Abraham Panumbangan, pacarnya, mau menikahi Astuti. Tapi, suami-istri belia itu tak tinggal serumah. Astuti tinggal di rumah orangtuanya. Setelah bayi lahir, biduk rumah tangga mereka tenggelam. “Kami memang belum siap berumah tangga,” kata Abraham.
Kasus perceraian pada pasangan muda yang menikah karena kehamilan tak dikehendaki itu menggelitik Yulia S. Singgih dan Meiske Y. Suparman dari Universitas Tarumanegara, Jakarta menelitinya. Mereka melakukan riset dengan teknik wawancara pada Maret-Juli 2005. Subjek mereka adalah remaja pria yang menikahi pasangannya karena kehamilan pranikah.
Mengapa hanya remaja pria? Selama ini penelitian pernikahan karena kehamilan pranikah lebih terfokus pada remaja perempuan. “Padahal kehamilan pranikah pada remaja punya dampak tak ringan. Salah satunya adalah pernikahan yang tidak direncanakan,” kata Yulia seperti dikutip situs Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara.
Pernikahan tak direncanakan itu menyebabkan beberapa masalah pada pasangan belia itu. Bukan saja sang ibu muda yang didera stres. Remaja pria juga menghadapi berbagai kesulitan. Sebab, seringkali mereka kurang mempersiapkan diri menerima peran baru dan bertanggung jawabnya memberi nafkah pada keluarga barunya. Padahal, ia sendiri sedang menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya.
Jika remaja pria merasa dituntut terlalu banyak oleh lingkungan, maka mereka akan mengalami kesulitan dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya. Situasi ini akan menyebabkan konflik peran pada remaja pria. Hasil penelitian itu meneguhkan betapa dampak pernikahan karena kehamilan pranikah pada remaja pria jadi merasa kehilangan kebebasan bersenang-senang. Peran mereka sebagai ayah menuntut mereka bersama dengan keluarganya. “Situasi ini menyebabkan mereka mengalami konflik peran,” kata Yulia.
14 REMAJA ABORSI
Fragmen kehidupan yang dialami Wiwiek dan Astuti itu tampaknya kian hari bertambah banyak jumlahnya. Berapa persisnya agak sulit tercatat secara akurat. Tak banyak siswi yang mau membuka aib kehamilannya? Berapa yang tetap merawat sang jabang bayi? Berapa pula yang menggugurkan kandungannya?
Menurut catatan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, diperkirakan setiap tahun terjadi 2 juta hingga 2,6 juta kasus aborsi. Sekira sepertiganya dilakukan perempuan usia 15-24 tahun. Angka kasarnya setiap 100 kehamilan ada 43 kasus aborsi. “Tidak ada data komprehensif tentang aborsi. Berbagai data adalah berdasarkan survei dengan cakupan relatif terbatas,” kata Dr Siswanto Agus Wilopo, SU, MSc, ScD Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat.
Sungguh bikin trenyuh. Data Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta juga cukup mencengangkan. Remaja yang berkonsultasi mengenai kehamilan tak dihendaki di program Lentera Sahaja (sabahat remaja) rata-rata setiap bulan berkisar 30-50 remaja.
DARI ONANI HINGGA HUS
Jogjakarta sendiri pernah menjadi sorotan nasional saat Iip Wijayanto merilis penelitian mengenai keperawanan mahasiswi Jogjakarta. Penelitian itu dirilis di banyak media massa pada Agustus 2002. Menurut hasil survei Iip dari Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan itu, tercatat 97,05% mahasiswi Jogjakarta telah kehilangan keperawanannya sewaktu belajar di “Kota Pelajar” itu. Ketika itu penelitian Iip banyak menuai protes kalangan perempuan dan dituding penelitiannya tak sahih.
Benar tidaknya survei Iip itu menyisakan debat panjang. Namun setidaknya membikin orangtua waswas. Coba simak data Pusat Studi Seksual PKBI Jogjakarta. Tim Litbang PKBI pernah mengadakan penelitian mengenai pengetahuan kesehatan reproduksi dan perilaku seksual remaja SMP di desa dan kota pada 2004. Subjek penelitian mereka 187 remaja, 80 laki dan 107 perempuan. Separuh responden berasal dari kota Jogjakarta. Sisanya tersebar di Kulon progo, Bantul, dan Sleman.
KEPERCAYAAN TERHADAP MITOS SEKSUALITAS
| MITOS | Remaja di Kota |
Remaja di Desa |
| Perawan/tidak perawan bisa dilihat dari fisik | 45,9 | 54,1 |
| Masturbasi bisa membuat cacat/ mandul | 40,6 | 40,6 |
| Minum soft drink mempercepat menstruasi | 52,1 | 47,9 |
| Petting tidak beresiko hamil | 48,1 | 51,9 |
MELAKUKAN ONANI
| Asal Responden | Pernah | Tidak Pernah |
| Kota | 67,3 | 41,6 |
| Desa | 32,7 | 58,4 |
MELAKUKAN AKTIVITAS SEKSUAL
| Aktivitas seksual | Responden di kota | Responden di desa |
| Bergandengan, berboncengan | 56,6 | 43,4 |
| Berpelukan | 57,8 | 42,2 |
| Berciuman pipi | 57,7 | 42,3 |
| Meraba-raba bagian tubuh | 75 | 25 |
| Petting | 84,2 | 15,8 |
| Berciuman bibir | 66,7 | 33,3 |
| Hubungan seksual | 88,9 | 11,1 |
Mengenai perilaku berboncengan sudah seringkali dilakukan remaja SMP. “Mereka lakukannya saat kondisi kerja organisasi, seperti pramuka dan kegiatan OSIS,” kata Maezur Zaky, peneliti Pusat Studi Seksual PKBI Jogjakarta.
Pertukaran informasi seksual para siswa terjadi di sekolah. Menurut hasil wawancara dengan responden informasi seksual berupa gambar porno dan situs porno mendorong remaja melakukan aktivitas seksual seperti disebut di atas. Sungguh mengkhawatirkan menyimak data 88,9% responden asal perkotaan pernah melakukan hubungan seksual, 75% di antaranya melakukan dua tiga kali.
FREKUENSI KEGIATAN SEKSUAL
| No | Perilaku Seksual | Pernah | Frekuensi | ||
| % |
1 kali |
2-3 kali |
> 3 kali |
||
| % | % | % | |||
| 1 | Bergandengan | 100 | 9,1 | 60,6 | 30,3 |
| 2 | cium pipi | 81,8 | 11,1 | 55,6 | 33,3 |
| 3 | Cium bibir | 66,7 | 18,2 | 59,1 | 22,7 |
| 4 | Pelukan | 87,9 | 13,8 | 62,1 | 24,1 |
| 5 | Saling meraba | 45,5 | 13,3 | 60 | 26,7 |
| 6 | Petting | 21,2 | 14,3 | 57,1 | 28,6 |
| 7 | Hubungan Seksual | 12,1 | 25 | 75 | 0 |
PERUBAHAN ORIENTASI PACARAN
Yuni Astuti, alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada Yogyakarta juga pernah melakukan riset mengenai perubahan orientasi pacaran remaja di Jogjakarta. “Dulu remaja pacaran untuk mencari calon pasangan suami-istri. Kini pacaran hanya untuk gengsi, fantasi, bahkan eksploitasi seks,” kata Yuni Astuti.
Yuni Astuti melakukan riset kualitatif pertengahan 2005. Dari wawancara terlontar jawaban tujuan remaja berpacaran adalah having fun, agar tidak ketinggalan zaman, dan eksploitasi seksual merupakan sebagian tujuan mereka. Sebagian remaja mengatakan pacaran dimaknai sebagai ajang adu gengsi, demi menjauhkan diri dari status jomblo. Maklum jomblo dipandang status negatif alias tidak laku.
Apa saja kegiatan pacaran remaja era sekarang?
Apa pendapat remaja tentang ciuman?
Apa aktivitas selain ciuman?
Anggapan wajar terhadap aktivitas seksual itu menambah keberanian mereka. Di depan teman-teman mereka, aktivitas seksual itu tak malu dipertontonkan. Pasangan pacaran tak malu bermesraan di sekolah. “Rangsangan seksual akibat seringnya mereka melakukan kontak fisik menjadi pemicu ciuman pada daerah-daerah erotis,” kata Yuni Astuti.
Jika aktivitas pacaran hasil riset Yuni Astuti benar adanya, bisa diduga aktivitas hubungan seksual menjadi hal yang sangat mungkin dilakukan dalam berpacaran. Data PKBI Jogjakarta mencatat rata-rata setiap bulan ada 30-50 remaja yang berkonsultasi mengenai kehamilan tak dihendaki.
Rifka Annisa, lembaga yang peduli terhadap kasus kekerasan perempuan, juga punya data lain. Kehamilan tak dihendaki menjadi bagian dari kekerasan terhadap perempuan. Simak data yang dihimpun Rifka Annisa selama kurun 1994-2005.
| KATEGORI KASUS |
TAHUN | JUMLAH | ||||||||||||
| JUMLAH KASUS | 18 | 82 | 102 | 188 | 206 | 333 | 370 | 381 | 399 | 318 | 338 | 306 | 3021 | |
Tentu, data itu hanya berasal dari mereka yang mau membuka diri. Ibarat permukaan gunung es, kehamilan tak dihendaki, bahkan aborsi di kalangan remaja, jumlah sesungguhnya diperkirakan lebih besar lagi.
DIPO HANDOKO DAN M ARIEF FATHONI (Jogjakarta)
19 April 2008 18:46 WIB
Thursday, 11 March 2010
POLLING PEMBACA |
September 19th, 2008 at 6:17 am
Wah ini data yang sangat mengerikan. Sekarang banyak pula film porno yg dilakoni secara sengaja. Lalu sekarang bagaimana kita memberi solusi pada masalah ini?