Pada awal tahun 2009, dua anak berusia di bawah
Pada kasus terakhir, seorang anak perempuan berusia balita yang terjangkit HIV meninggal dunia setelah dirawat dua pekan di Rumah Sakit Umum Daerah Serang. Dia meninggal karena komplikasi penyakit.
Ini kematian ketiga warga Banten akibat HIV/AIDS dalam tiga bulan pertama tahun ini. Sebelumnya, pada 2 Februari perempuan dewasa pengidap HIV asal Merak, Cilegon, meninggal, disusul anak perempuan usia balita meninggal pada 18 Februari silam.
”Setiap tahun jumlah pengidap HIV/AIDS di Banten meningkat,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Banten Dadang. Di Banten, HIV/AIDS dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) karena peningkatan kasus dua kali daripada tahun 2008.
Akhir 2008, jumlah kumulatif pengidap HIV/AIDS di Banten 1.271 orang. Pada dua bulan pertama tahun 2009, jumlah meningkat pesat sehingga mencapai 1.413 orang.
Di berbagai negara di dunia, kasus HIV/AIDS tidak pernah dinyatakan outbreak karena perkembangan virus HIV dan komplikasi penyakit butuh waktu bertahun-tahun atau kronis. ”Peningkatan kasus tidak tiba- tiba terjadi, tetapi kemungkinan baru didiagnosis,” kata Tjandra.
Mengutip data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, hingga Desember 2008 jumlah kasus AIDS mencapai 16.110 orang.
Depkes menyebutkan, Banten tidak termasuk dalam 10 provinsi dengan angka kasus HIV/ AIDS tertinggi di
Peningkatan kasus HIV di Banten diduga akibat makin banyak tempat layanan kesehatan yang membuka layanan tes HIV dan konseling sukarela (VCT). Faktor lain, pengidap HIV tidak terdiagnosis sejak dini hingga terjadi komplikasi penyakit.
Menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Nafsiah Mboi, meningkatnya kasus HIV di Banten bisa jadi karena kemampuan mendeteksi atau diagnosa kini lebih baik. Selain itu, banyak dokter dan bidan yang dilatih untuk menemukan kasus HIV/AIDS.
”Kalau tertularnya sudah lama dan baru ditemukan karena diagnosa yang makin baik. Namun, bisa jadi peningkatan kasus karena memang kasus baru. Kalau perilaku berisiko jalan terus, melalui jarum suntik narkoba dan hubungan seks yang tidak aman, ya kasus HIV/AIDS bisa meningkat,” kata Nafsiah.
Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia Prof Zubairi Djoerban menilai lonjakan kasus HIV di provinsi yang berbatasan dengan DKI Jakarta itu merupakan puncak gunung es dari besarnya angka kasus HIV. ”Estimasi angka kasus HIV/ AIDS 270.000 orang,” ujarnya.
Meninggalnya tiga pengidap HIV dalam tiga bulan pertama menunjukkan keterlambatan diagnosis yang menentukan efektivitas terapi. ”Kalau pelayanan kesehatan bagi pengidap HIV tidak dikelola baik, diagnosis dini sulit dilakukan,” ujarnya.
Saat ini belum semua dokter punya kompetensi menangani pasien terinfeksi HIV. ”Perlu pelatihan bagi dokter umum dan spesialis mengingat makin banyaknya jumlah pengidap,” ujarnya menegaskan.
”Saat ini akses pengidap terhadap obat-obatan antiretroviral (ARV) sudah mudah. Makin dini mendapat ARV, makin baik bagi kesehatan pengidap,” ujarnya.
Bisa dicegah
Sebenarnya HIV/AIDS bisa dicegah sejak awal agar tidak menulari bayi dan anak-anak, yaitu melalui pemberian obat ARV pada ibunya.
”Anak balita tertular dari orangtua melalui si ibu. Ibu bisa jadi tertular dari suaminya,” kata Nafsiah.
Virus bisa menular saat kehamilan, persalinan, dan saat ibu menyusui. HIV pada ibu bisa dicegah dengan cara suami yang positif HIV sebaiknya berhubungan seks secara aman agar tidak menulari istrinya. Namun, kalau istri sudah tertular HIV, langkah berikutnya bisa dicegah agar tidak menulari janin.
”Pada waktu hamil, melahirkan, dan menyusui, sebaiknya ibu minum ARV supaya virus dalam darah dan air susunya tetap rendah, bahkan bisa berkurang,” kata Nafsiah.
Bayi dan anak balita yang telanjur terinfeksi HIV bisa diberi ARV dalam bentuk tetes. ”Setiap hari diberikan. Untuk sementara ARV tetes bisa diakses di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo,
Tergantung luar negeri
Penanganan pengidap HIV/ AIDS di Banten masih bergantung pada bantuan luar negeri. Tiga klinik VCT yang menangani pengidap HIV/AIDS dioperasi dengan bantuan dari lembaga luar negeri.
Ketiga klinik VCT itu adalah Klinik Teratai di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Serang, Klinik Bougenvil RSUD Kabupaten Tangerang, dan Klinik Qadar di Rumah Sakit Qadar, Tangerang.
”Dana bantuan berasal dari Global Fund. Belum ada dana pendamping dari pemerintah daerah,” kata Kepala Klinik Teratai, Santoso Edi.
Padahal, saat ini, ketiga klinik tengah menangani ratusan pengidap HIV/AIDS. Sekitar 200 pengidap di antaranya menjadi pasien tetap Klinik Teratai, termasuk
Setiap bulan, Klinik Teratai harus melayani seluruh pasien HIV/AIDS, termasuk memberikan obat ARV. Jika bantuan dana dari luar negeri itu dihentikan, pelayanan terhadap pasien terancam terhenti. Padahal, menurut Santoso, pasien HIV/ AIDS adalah pasien seumur hidup yang harus dilayani seumur hidupnya.
Tahun ini Pemerintah Provinsi Banten mengalokasikan Rp 5 miliar untuk penanggulangan HIV/AIDS. Menurut Koordinator Populasi Kunci Banten, Dodi Ahmadi, dana tersebut hanya untuk membeli dua unit alat pengukur sistem kekebalan tubuh (CD4). Elok Dyah Messwati dan Evy Rachmawati
Sumber: Harian Umum Kompas
13 March 2009 09:45 WIB
Monday, 15 March 2010
POLLING PEMBACA |