Kata Kunci: paradigma, pendidikan, rembug nasional
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengemukakan, seiring dengan adanya fakta-fakta di lapangan maka terjadi pergeseran- pergeseran paradigma di dunia pendidikan. Menurutnya, ada beberapa pergeseran paradigma yang harus dicermati. Hal tersebut disampaikan Mendiknas saat membuka Rembuk Nasional Pendidikan 2010 di Pusdiklat Pegawai Kementerian Pendidikan Nasional, Depok, Jawa Barat, Rabu (3/3/2010).
Mendiknas mengemukakan
Teknologi pendidikan perlu terus menerus dikembangkan untuk menjawab persoalan-persoalan pendidikan. Pendekatan pembelajaran yang sebelumnya tidak mungkin jika dilakukan secara konservatif maka dengan teknologi pendidikan akan menjadi mungkin. Teknologi pendidikan dapat meningkatkan efisien dan efektivitas.
“Saya mengajak untuk terus menerus mengembangkan teknologi pendidikan untuk menjawab persoalan ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas. Dengan teknologi pendidikan maka persoalan ketersediaan bisa dikurangi sebagian, demikian juga (persoalan) keterjangkauan,“ kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh pada Seminar dan Workshop Nasional Peran Teknologi Pendidikan dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Nasional di Depdiknas, Jakarta, Rabu (18/11/2009) .
Kata Kunci: keilmuan, olimpiade
Ilmu pengetahuan berkembang salah satunya adalah dari tumbuhnya rasa penasaran intelektual (intelectual curiosity). Kegiatan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2009 merupakan bagian dari intelektual curiosity. Penelitian hendaknya dijadikan tradisi untuk memberikan kemanfaatan bagi umat manusia.
“Lomba seperti ini bukan sekedar menampilkan hasil karya dari adik-adik sekalian, tetapi yang lebih mahal daripada itu adalah menguji logika-logika yang adik-adik kembangakan. Kemudian prosedur-prosedur yang adik tuangkan dan semuanya itu bagian dari kaidah keilmuan, kaidah pengembangan, dan ujung-ujungnya kita berharap tumbuh yang namanya budaya keilmuan itu,” kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh kepada para peserta OPSI 2009 di Plaza Depdiknas,
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam hal ini Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (Dit.PSMK) akan mempertajam program kewirausahaan di SMK. Dengan keahlian yang dimiliki, siswa SMK akan dilatih agar dapat melakukan kegiatan usaha sendiri.
Hal tersebut Direktur PSMK Joko Sutrisno saat memberikan keterangan pers di Depdiknas,
Joko mengatakan, salah satu pembelajaran kewirausahaan yang akan dicanangkan yaitu Program Satu Siswa Satu Notebook. “Kita akan meluncurkan satu siswa satu notebook. Kta akan bermitra dengan beberapa perusahaan baik nasional maupun internasional untuk memastikan notebook dengan harga yang terjangkau oleh para siswa,” katanya.
Kata Kunci: , matematika, WIZMIC
Kompetisi dibagi menjadi dua kategori yaitu kompetisi individual dan kompetisi tim. Pada kategori kompetisi individual, delapan siswa meraih predikat first class honour (setara medali emas), tujuh siswa meraih second class honour (setara medali perak), dan empat siswa meraih third class honour (setara medali perunggu). Pada kategori ini, Henry Jayakusuma dari SD PL Bernardus Semarang, Jawa Tengah meralih nilai tertinggi.
Kewirausahaan Bisa Atasi Pengangguran
Jumat, 30 Oktober 2009 | 03:38 WIB
Jakarta- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh untuk mengubah metodologi belajar-mengajar. Pola yang sekarang tidak mendorong siswa kreatif dan inovatif sehingga sulit memunculkan jiwa kewirausahaan anak didik.
Metode belajar-mengajar anak didik yang dilakukan sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga sekolah menengah dinilai hanya menunjukkan gurunya yang aktif, sedangkan anak didik justru tidak aktif. Proses belajar seperti itulah yang dinilai tidak dapat mengembangkan inovasi dan kreativitas serta kewirausahaan.
Demikian disampaikan Presiden Yudhoyono saat membuka Temu Nasional 2009 di Jakarta, Kamis (29/10). Dalam acara itu, hadir Wakil Presiden Boediono, para menteri kabinet, gubernur, bupati, wali kota, unsur pimpinan badan usaha milik negara (BUMN), dan sejumlah pejabat lain.
Kamis, 15 Oktober 2009 | 03:47 WIB
Yogyakarta, Kompas -
Untuk memastikan, Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) V Wilayah DI Yogyakarta akan melaksanakan verifikasi data terhadap 199 dosen tersebut. ”Verifikasi dikirimkan kepada dosen yang bersangkutan serta perguruan tinggi swasta tempat mereka bekerja,” kata Koordinator Kopertis V Budi Santosa Wignyosukarto di Yogyakarta, Selasa (13/10).
Rabu, 7 Oktober 2009 | 02:42 WIB
Jakarta, Kompas - Kinerja guru yang sudah lolos sertifikasi masih belum memuaskan. Motivasi kerja yang tinggi justru ditunjukkan oleh guru-guru di berbagai jenjang pendidikan yang belum lolos sertifikasi, dengan harapan segera mendapat sertifikasi berikut uang tunjangan profesi.
Demikian temuan sementara dari hasil survei yang dilakukan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengenai dampak sertifikasi profesi guru terhadap kinerja guru. ”Kami baru mengolah data 16 dari 28 provinsi yang diteliti. Hasilnya ternyata kurang memuaskan. Padahal, kami berharap, sertifikasi bisa meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru,” kata Unifah Rosyidi,
Selasa, 29 September 2009 | 03:56 WIB
Jakarta, Kompas - Ketentuan beban kerja guru minimal 24 jam tatap muka sebenarnya tidak akan menjadi persoalan dan polemik jika dinas pendidikan merencanakan kebutuhan dan menata penempatan guru secara tepat. Karena itu, dalam dua tahun ke depan, redistribusi guru mesti selesai.
”Kami menginginkan supaya pascasertifikasi, guru itu benar-benar bisa maksimal untuk membantu pengembangan kecerdasan dan diri siswa. Persoalannya sekarang, penataan guru tidak benar. Di kota kelebihan guru sehingga guru kurang jam mengajarnya, sedangkan di pinggiran kekurangan guru sehingga beban kerja berlebihan. Hal itu terjadi karena kelemahan pengawasan dari dinas pendidikan, terutama di tingkat kota dan kabupaten,” kata Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional Baedhowi di Jakarta, Senin (28/9).
Selasa, 8 September 2009 | 03:57 WIB
Jakarta, Kompas - Kurikulum SMK seni tradisional perlu dibuat lebih kreatif untuk memenuhi kebutuhan pasar. Selama ini, kurikulum SMK seni tradisional terlalu terpatok pada aturan- aturan lama sehingga tak sesuai dengan tuntutan.
Sunardi, Ketua Himpunan SMK Kesenian Nusantara, di Yogyakarta, Senin (7/9), mengatakan, hal ini terutama terlihat pada kurikulum SMK jurusan pedalangan. Kurikulum di jurusan ini masih mengutamakan pembelajaran wayang klasik yang berlangsung semalam suntuk.
”Padahal, sekarang peminat wayang klasik terbatas pada kalangan orang tua. Kondisi masyarakat umumnya tidak memungkinkan lagi untuk menonton wayang semalam suntuk karena harus sekolah atau bekerja esok harinya,” ujar Sunardi yang juga Kepala SMKN 1 Kasihan Bantul, Yogyakarta.
Wednesday, 10 March 2010
POLLING PEMBACA |