MUSIK

Konser Karawitan Muda Indonesia

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

karawitan-2-shanty.jpg

Oleh: Shanty/Pena.com

Auditorium RRI Jakarta hampir sesak, 15-16 Maret lalu. Jangan salah, penonton yang membanjir itu bukan menyaksikan pertunjukan band dengan penyanyi idola remaja era sekarang. Penonton yang sebagian berasal dari luar Jakarta ini tengah menyaksikan Konser Karawitan Muda Indonesia (KMI) III.

KMI III merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan KMI didukung Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Depdiknas, Komite Nasional Indonesia untuk Unesco, dan RRI. Konser musik tradisional yang boleh dibilang langka ini bertujuan menarik minat kalangan muda Indonesia menyukai kesenian daerah, khususnya musik tradisional. Harapannya, kelak lahir karya seni bernunsa tradisional Indonesia yang kuat.

Peserta KMI III di antaranya Angklung Salendro dari Sanggar Awi Sada, Banjaran, Bandung, Gong Kebyar (Sanggar Buruansari, Tabanan, Bali), Karawitan Jawa (SMA Santa Ursula, Jakarta), Tifa dan Kelabut (Papua), Banjar Muhidin dan Panting (Kalimantan Selatan).

Karawitan Mengikuti Perkembangan Jaman

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Konser Karawitan Muda Indonesia (KMI) III kembali digelar. KMI III diselenggarakan di Auditorium RRI Pusat, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, tanggal 15-16 Maret 2008. KMI III yang merupakan lanjutan dari KMI I 2006 dan KMI II 2007 diikuti sejumlah siswa sekolah dan sanggar seni tradisonal dari daerah-daerah di Indonesia.

Menurut Prof. Dr. Edi Sedyawati, Ketua Umum KMI, konser digelar untuk membangun gerakan dan kekuatan artistik di kalangan pemuda Indonesia. “Kami berharap konser ini bisa diterima kalangan generasi muda yang sudah luntur terhadap budaya bangsa. Musik tradisional memang harus terus berinovasi mengikuti perkembangan jaman, agar generasi muda juga bisa tertarik,” kata Guru Besar Universitas Indonesia ini, kepada PENA PENDIDIKAN.

Beethoven Di SD Bina Gita Gemilang

Kata Kunci: , , ,

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Für Elise berkumandang apik di Ruang Auditorium Musik Yamaha di Gedung Yamaha, di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, 23 Februari lalu. Sungguh tak menyangka bila komposisi musik gubahan maestro Ludwig van Beethoven, dimainkan seorang bocah sepuluh tahun. Ya, Michelle, siswa kelas 5 sekolah Dasar Bina Gita Gemilang itu, mampu menghidupkan Beethoven dengan permainan pianonya.

Ratusan penonton pun memberikan standing ovation selepas Michelle merampungkan komposisi klasik itu. Selain Michelle, permainan piano juga menajdi suguhan sejumlah siswa Bina Gita Gemilang. Ada Dancing gubahan Adam Carse yang dimainkan apik secara duet –satu piano dimainkan berdua– oleh Alya Latisha dan Maulidina. Evandra Ganesha Y yang membawakan October Morning gubahan Martha Mier, juga terlihat jago. Ia memainkan musik tanpa membaca partitur.

Suguhan permainan musik klasik, itu hanya sebagian dari pertunjukan bertajuk Music Appreciation Day. Acara ini digelar Sekolah Dasar Bina Gita Gemilang saban tahun. Konser dibuka dengan paduan suara siswa yang membawakan lagu Indonesia Pusaka. Sebagai pertunjukan inti, ada kabaret yang mengisahkan seorang putri dan pangeran buruk rupa.

Music Appreciation Day merupakan bagian dari program belajar ekstra kurikuler bertajuk Performing Arts. Siswa bebas memilih kegiatan drama dan pidato, balet, violin, tari tradisional, dan paduan suara. “Siswa bebas menentukan sendiri peranannya. Instrumen apa yang hendak dimainkan, tidak ada paksaan dari guru. Ketika mereka sudah memilih peranannya, barulah sekolah melatih mereka semaksimal mungkin,” kata Salony Widjaja, music director Music Appreciation Day.

Suguhan pertunjukan beragam cabang seni itu menjadi salah satu kebanggaan Sekolah Bina Gita Gemilang. Sekolah yang terletak di Jalan Asem Baris, Jakarta Selatan ini yang didirikan pada 2001, memang diniatkan sebagai sekolah yang memahami kemampuan terbaik anak. “From Each His Best” menjadi slogan yang tak sekadar semboyan belaka.

Sekolah ini didirikan Salony bersama Yustitia, yang juga pemilik Kinderfield Preschool dan Kindergarten. Duet Salony-Yustitia inilah yang membangun sekolah dengan misi memercikkan kasih sayang kepada setiap individu untuk menjadi siswa yang seumur hidup punya kreativitas dan pola pikir kritis dengan menjaga nilai-nilai moral.

HERU LESMANA SYAFEI

Thursday, 11 March 2010

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI