Rabu, 20 Agustus 2008 | 00:55 WIB
TINGKAT keamanan pangan di sekolah masih rendah. Hal ini membahayakan kesehatan para peserta didik. ”Masalah keamanan pangan masih banyak ditemukan di sekolah-sekolah,” kata Deputi Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat dan Makanan Dedi Fardiaz, Selasa (19/8), dalam jumpa pers ”Petualangan Pompi, Sosialisasi Lima Kunci Keamanan Pangan” di Jakarta.
Hasil survei oleh Badan POM tahun 2007 menunjukkan, 45 persen produk pangan olahan dan siap saji di lingkungan sekolah tercemar baik fisik, mikrobiologis, maupun kimia. Selain tercemar mikroba, banyak produk pangan mengandung formalin, boraks, dan zat pewarna tekstil.
Kata Kunci: kejang
Oleh: Dr Sigit Widyatmoko, SpPD
Jangan masukkan sendok ke mulut anak yang kejang. Salah-salah bisa rontok giginya. Lebih baik dikompres dengan air hangat.
Kalau ingin tahu paras asli seorang ibu, lihatlah wajahnya ketika anaknya kejang, demikian pernah dilontarkan seorang dosen senior kepada saya. Alasannya waktu anak kejang si ibu tidak akan sempat untuk mematut-matut wajahnya di muka cermin. Dengan baju dan wajah seadanya, si anak akan langsung dibawanya ke dokter atau rumah sakit.
Oleh: dr. Sigit Widyatmoko, M Kes, Sp PD
Suatu sore saya kedatangan pasien yang agak spesial. Seorang ibu tua datang dengan diantar anak gadisnya. Kondisinya lemah dengan muka pucat. Tangannya yang sudah keriput memegangi perutnya. “ Dok, perut saya sakit. Baru saja saya muntah darah. Tadi pagi, buang air besar saya juga hitam …,” keluhnya.
Tekanan darahnya 95/60 mmHg. Nadi 100 x/menit dengan tekanan nadi yang lemah. Konjungtiva matanya pucat, mengesankan kadar hemoglobin sekitar 8-9 g%. Nyeri tekan pada ulu hati sangat dominan. Ketika tangan saya letakkan pada ulu hatinya, si ibu sudah mengaduh kesakitan.
Kata Kunci: , KESEHATAN, paliatif, rokok
Oleh: dr. Sigit Widyatmoko, Mkes, Sp PD
“Pokoknya Pak Dokter…., yang penting bapak saya bisa sembuh, “ pinta Tanto, si tukang ojek dengan memelas. Saya tertegun.
Tanto, yang tiap hari mangkal di sebuah perempatan di Boyolali, sore itu memeriksakan Pak Kadir, bapaknya, ke tempat praktek saya. Bapaknya sakit kanker paru stadium IV. Secara teoritis harapan hidupnya 5 tahun lagi hanya sekitar 10%. Sekarang dia sedang terkena cancer pain, yaitu perasaan nyeri yang ditimbulkan oleh kanker.
Nyeri karena kanker jauh lebih perih dibandingkan karena rematik, sakit gigi, atau bahkan luka bakar. Pasien pada stadium IV biasanya hanya diberi pengobatan paliatif, untuk mengurangi penderitaan saja. Meski demikian biayanya tetap masih besar untuk ukuran Tanto.
Kata Kunci: KESEHATAN, mental, pasca musibah
dr. Sigit Widyatmoko, SpPD
Sebut saja wanita separuh baya berjilbab itu Tina. Saya bertemu dengannya hampir tiga tahun yang lalu di Meulaboh, Aceh Barat. Ketika itu saya menjadi relawan bencana gempa bumi dan tsunami, utusan dari RS Sardjito Yogyakarta. Tina sebenarnya adalah perawat di bagian kamar operasi RSU Meulaboh. Peristiwa tsunami membuatnya dipindah ke bagian penyakit dalam.
”Waktu itu air sudah setinggi leher saya, Dok. Rumah saya sudah terendam. Pikiran saya hanya bagaimana menyelamatkan anak saya. Dengan memakai tandu bersama suami saya angkat anak saya dua orang, berjalan di tengah luapan air sejauh lima kilometer menuju bukit. Setiap kali gelombang air menerpa, saya berteriak, “Allahu Akbar…!”
Sumber : ANTARA
Singapura (ANTARA News) - Secangkir teh baik untuk otak karena memperlambat kerusakan sel dan menjaga daya ingat tetap tajam di usia tua, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan, Minggu.
Penelitian selama empat tahun oleh para ilmuwan di Singapura itu menambah panjang daftar manfaat teh.
Setiap jenis teh akan menghasilkan manfaat yang sama, kata Professor Ng Tze Pin dari Departemen Obat Untuk Kesehatan Jiwa Universitas Nasional Singapura kepada The Sunday Times.
“Ay-yo mas …beginyi, cenyum …. Klik ! Ya … lagi. Nggak begicu …klik. “ Suryani si anak penyandang Sindroma Down (SD) itu nampak gembira melihat kami menuruti kemauannya utuk difoto. Waktu itu saya, isteri, dan kedua anak saya sedang mengikuti pengajian di sebuah TK dekat rumah. Karena terlambat kami duduk di di luar.
Begitu melihat kami, Suryani tampak antusias. Dia memang sudah terbiasa dengan saya karena memang pasien langganan. Dia segera menyambut, lalu mencubit-cubit anak saya. Anak saya sebenarnya risih, tapi diam saja dengan berusaha tersenyum. Suryani lalu meminjam HP saya kemudian –entah bercanda atau tidak– “memotret” kami dengan berbagai pose. Padahal HP saya tidak ada kameranya.
Wednesday, 20 August 2008
POLLING PEMBACA |