PERISTIWA

Belgia: Sudah Gratis, Bisa Main Sirkus

Kata Kunci: , ,

Oleh: Asmayani Kusrini (Belgia)

Jam belajar di hampir semua pre-school antara pukul 09.00-16.00. Orangtua cuma dibebani biaya makan Rp 120.000 per bulan. Anak usia 3,5 tahun diajari mendaur ulang kertas bekas dan dijadikan berbagai benda berguna. Tak ada tidur siang.

DULU Marie Lucien benci dengan yang namanya sekolah. Hari pertama masuk sekolah di pre-school khusus untuk anak-anak di bawah umur 6 tahun, Marie tidak mau lepas dari ibunya. Sang ibu, Juliette Lucien yang bekerja di sebuah perusahaan asuransi terpaksa minta libur ke kantornya.

Tapi itu hanya di hari pertama. Hari kedua, melihat anak-anak yang lain mulai saling bergaul, Marie malah ogah melihat ibunya dekat-dekat. Sejak itu, sang ibu tak lagi khawatir. Tiap pagi, Juliette hanya perlu mengantar Marie kecil ke depan sekolah di daerah Pipaix, bagian Wallonia Belgia, pukul 9 pagi dan menjemput bocah itu pada pukul 4 sore.

Sekarang, Marie berumur 3,5 tahun, dan makin asyik dengan sekolahnya. Menurut ibunya, pre-school atau einseignement maternel sangat membantu, baik untuk orangtua siswa, maupun siswa itu sendiri. Pertama, karena sekolah ini gratis. “Paling saya hanya perlu membayar 10 euro untuk makan siang anak-anak selama sebulan,” kata Juliette. Ongkos makan siang yang dibayar Juliette tak lebih dari Rp 120.000 per bulan (kurs 1 Euro setara Rp 11.700)

Juliette tak perlu repot menyiapkan bekal untuk Marie kecuali bekal tambahan seperti coklat, permen atau susu. Selain itu, ia juga tidak perlu mengeluarkan uang untuk menyewa pengasuh yang gajinya sangat mahal.

RUMAH PENUH HIASAN

Waktu belajar yang panjang dari pukul 09.00-16.00 adalah periode yang umum dipakai pre-school di Belgia. Jam istirahat berkisar antara pukul 11.30 hingga 13.00. Biasanya dimanfaatkan untuk makan siang (baik itu yang disediakan oleh sekolah, maupun bekal tambahan dari rumah). Setelah makan siang, anak-anak biasanya bermain di luar ruang kelas. Entah itu bermain ayunan, atau sekadar kejar-kejaran di taman sekolah.

Keuntungan kedua, Marie bisa bergaul dengan teman seusianya dan mulai bisa belajar untuk berkreativitas. Di Belgia, einseignement maternel memang bertujuan untuk memancing kreativitas, membangun keahliannya sejak dini, serta meningkatakan kapasitasnya dalam berekspresi dan berkomunikasi secara independen.

Di sekolah, Marie misalnya diajari cara mendaur ulang kertas-kertas bekas untuk dijadikan berbagai macam benda berguna. Membuat kartu natal dari koran atau membuat kapal-kapalan dari kardus. Biasanya, guru di sekolah hanya menyediakan peralatan. Lalu si anak, misalnya ditanya kegiatannya di waktu libur. Otomatis mereka mengingat, lalu mereka diajak untuk memvisualkan atau membendakan apa saja yang menurut mereka menarik.

Hasilnya, rumah Juliette di kawasan Pipaix penuh dengan benda-benda macam kapal-kapalan, tempat buku, lukisan, boneka buatan tangan, ciri khas anak-anak. Juliette juga tak segan memasang hasil karya putrinya ini di depan jendela atau diatas meja ruang tamu. “Ini membuat Marie makin bersemangat. Setiap kali melihat barang bekas, tas bekas, dus bekas, bahkan kertas pembungkus roti, selalu ada saja yang dia lakukan dengan benda-benda itu,” kisah Juliette.

BOLEH NONTON SIRKUS

Selain mengajarkan hal-hal kreatif, di sekolah anak-anak juga diajak melakukan kegiatan yang mereka sukai di luar ruang kelas. Pilihannya bisa olahraga, seni, atau kegiatan lainnya.

Sekolah biasanya menyediakan kartu gratis yang bisa dipakai oleh seorang anak buat memanfaatkan fasilitas publik di kota mereka. Misalnya kolam renang, arena sirkus, atau pusat kegiatan seni. Anak-anak hanya perlu melapor ke guru mereka dan memperhatikan jadwal. Biasanya ada jadwal-jadwal khusus untuk kegiatan-kegiatan tertentu seperti berenang.

Atau bagi yang suka mencoba-coba bermain musik, juga disediakan sejumlah gitar, drum, fluit, dan piano. Guru atau pelatih mereka harus bisa mengatur waktu agar setiap anak bisa mendapat bagian. Bagi anak-anak yang super aktif atau senang memanjat, biasanya suka memilih pelajaran sirkus. Atau juga diajar cara menanam bunga.

Kegiatan ekstra ini biasanya dilakukan setelah makan siang. Mereka bisa memilih untuk bergabung di kelompok mana saja. Ada kelompok teater, olahraga, musik, seni melukis, dan sirkus. Sepenuhnya diserahkan kepada sang anak. Anak-anak yang sering bosan juga bisa berganti-ganti kegiatan. Guru-guru dan pelatih selalu tersedia bagi mereka.

Selain kegiatan terjadwal seperti di atas, sekolah juga biasanya mengorganisir sejumlah aktvitas bermanfaat lainnya. Seperti kegiatan tiga bulanan berkunjung ke museum, atau nonton film bareng, hiking atau berkemah. “Sejauh ini, Marie selalu suka mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra, apalagi nonton film bareng,” kata Juliette.

TAK ADA TIDUR SIANG

Program pre-school di Belgia memang sangat bermanfaat. Walaupun sekolah belum wajib sampai anak berumur 6 tahun, tapi hampir 90% orangtua yang memiliki anak di bawah umur 6 tahun memanfaatkan fasilitas sekolah ini. Apalagi bagi mereka yang bekerja. Mereka lebih memilih menyekolahkan anak mereka di pre-school daripada membawa anaknya ke tempat penitipan anak.

Tidak ada istilah tidur siang bagi anak-anak di pre-school. Sepanjang hari, anak-anak disibukkan dengan sejumlah kegiatan mengasyikkan hingga tak punya waktu untuk tidur siang. “Biasanya, Marie sudah mulai mengantuk pada pukul 6 sore dan tidur pada pukul 8 malam,” kata Juliette. Menurut Juliette hal ini baik agar membiasakan anak-anak berdisiplin dengan waktu. “Juga mendidik bahwa siang adalah waktu untuk manusia bekerja dan malam adalah waktu istirahat,” kata Juliette lagi.

Melelahkan? Bagi Marie justru tidak. Setiap hari Sabtu dan Ahad, misalnya, ketika sekolah sedang libur, Marie kecil biasanya tetap aktif mengerjakan banyak hal. Entah itu melukis, menonton film kartun, hingga bermain-main dengan anjing mereka. “Marie justru ngambek kalau disuruh tidur siang sama neneknya,” kata Juliette.

Sekolah di tingkat ini belum bertujuan untuk mengajarkan anak membaca tapi mulai diperkenalkan dengan huruf. Belajar melafalkan huruf-huruf susah seperti R misalnya. Juga mulai diajak mengenali benda, nama binatang, atau nama tumbuhan. Tapi 80% kegiatannya adalah berkreasi. Di tingkat ini, guru-guru sudah bisa mulai melihat bakat dan ketertarikan si anak pada subjek tertentu.

Ini juga bisa membantu pemilihan sekolah saat anak-anak mulai beranjak ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Hampir semua pre-school adalah bagian dari sekolah yang lebih tinggi, yaitu primary school atau enseignement primaire. Primary school setingkat SD disediakan bagi anak-anak di atas umur 6 tahun. Seperti juga SD, sekolah di tingkat ini akan berlangsung hingga 6 tahun.

Sekolah tingkat ini juga gratis untuk setiap anak. Primary school seperti pada umumnya sekolah dasar, juga menerapkan program sekolah tradisional, konsentrasi pada pelajaran membaca, menulis dan dasar-dasar hitungan. Yang paling penting, mereka juga harus belajar bahasa Perancis dan bahasa Flemish (mirip bahasa Belanda). Ini merupakan materi wajib, baik itu di sekolah bagian wilayah Wallonia (yang berbahasa Perancis), maupun di bagian Flemish.

Selain itu, setiap anak bisa mulai memilih pelajaran yang mereka sukai, seperti biologi, seni, musik, olahraga, dll. Biasanya guru-guru mereka di pre-school merekomendasikan pelajaran khusus ini berdasarkan hasil pengamatan mereka. Tapi keputusan tergantung pada sang anak.  Semuanya gratis pula.

ASMAYANI KUSRINI (Belgia)

18 June 2008 07:06 WIB

Artikel ini menarik?
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
Loading ... Loading ...

Pena Pendidikan

Saturday, 22 November 2008

REDAKSI


Iwan Qodar Himawan

Saiful Anam

Dipo Handoko

Eva Rohilah

Fathoni Arief

Kenny

Arien TW

RUBRIK

ANGGOTA

POLLING PEMBACA

EMAIL SUBSCRIBE

Enter your email address:

STATISTIK

KATA KUNCI