Kata Kunci: contextual teaching learning, Elaine B Johnson
Oleh: Dipo Handoko/Pena
Pembelajaran dan pengajaran kontekstual dinilai tepat menyatukan konsep teoritis dan praktik. Memaksimalkan fungsi otak, klop dengan psikologi dasar manusia, dan pas dengan prinsip alam semesta. Mengenal murid lebih dalam menjadi salah satu kunci.
DI sebuah sekolah menengah di negara bagian Washington, Amerika Serikat, setiap guru bertindak sebagai seorang pembimbing bagi kira-kira 15 siswa. Kebijakan sekolah memang mewajibkan para guru pembimbing menyisihkan waktu 50 menit seminggu untuk bertemu dengan 15 siswa bimbingannya. Pertemuan itu membuat guru mengenal siswa bimbingannya dari soal ras, etnis, status ekonomi, kepribadian, bakat, minat hingga kemampuan.
Di sekolah dasar di Jepang, para guru mengenal siswa-siswanya dengan cara meminta murid mereka menuliskan tujuan pribadinya. Setiap tujuan sang anak disematkan pada foto anak di papan majalah kelas.
Rasanya, kebiasaan semacam itu jarang ditemui di sekolah-sekolah di Tanah Air. Padahal, ketika para guru mengenal betul siswa-siswanya, guru bisa menolong sang murid menemukan gagasan, keterampilan dan pelajaran yang benar-benar menarik dan menyenangkan murid.
Pengenalan terhadap murid itu merupakan bagian penting dalam metode pembelajaran bertajuk Contextual Teaching Learning (CTL) alias pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Metode CTL itu sendiri sejatinya bukan barang baru. Penelitian mengenai pengajaran kontekstual kali pertama digulirkan John Dewey (1916). Ketika itu Dewey menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi di sekelilingnya.
Intinya, pembelajaran Dewey menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok. Model pembelajaran dan pengajaran ini terus berkembang.
Satu di antara ahli pendidikan yang intens mengembangkan metode ini adalah Elaine Bowe Johnson. Doktor sastra Inggris ini banyak mendapat penghargaan atas metode mengajarnya. Buku karyanya ini menjadi bukti pengalaman Elaine.
Elaine membuka tulisannya di Bab I dengan pertanyaan mendasar: mengapa menggunakan CTL? Jawabannya justru pertanyaan juga. Ketika guru berhadapan dengan siswa kritis akan bertemu pertanyaan: mengapa kita mempelajari ini dan itu? Guru yang jempolan akan menerangkan dengan gamblang, apa tujuan dan maksud setiap pokok pelajaran. Itulah penemuan makna yang jadi ciri utama pembelajaran dan pengajaran kontekstual.
Elaine memberi banyak contoh pengajaran dengan metode CTL. Dari pengajaran biologi dan fisika, hingga tinjauan sisi psikologis. Di bagian berikutnya, Elaine menjabarkan mengapa metode CTL berhasil. Ia kembali menjumput sejumlah pengalaman guru di kelas dan diskusi-diskusi. Dari praktik belajar-mengajar itu jawaban muncul.
CTL berhasil karena sistem ini meminta siswa bertindak dengan cara alami sebagai manusia. Yakni memaksimalkan fungsi otak, klop dengan psikologi dasar manusia, dan pas dengan prinsip alam semesta. Prinsip alam raya itu adalah saling bergantung, diferensiasi, dan pengaturan diri sendiri.
Pencarian makna dari satu pelajaran dalam metode CTL adalah prinsip utama dari psikologi modern. Di bab ini Elain memaparkan setidaknya ada delapan komponen sistem CTL. Yakni membuat keterkaitan bermakna, melakukan pekerjaan berarti, pembelajaran yang diatur sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian otentik.
Pendek kata, pembelajaran dan pengajaran kontekstual berusaha menolong siswa melihat makna dalam materi akademis yang mereka pelajari di sekolah. Caranya dengan menghubungkan subjek akademis dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yakni keadaan pribadi, sosial dan budaya.
2 June 2008 12:12 WIB
Wednesday, 20 August 2008
POLLING PEMBACA |