SMP 1 Baturetno, Wonogiri
Kota kecamatan Baturetno rasanya tak perlu lagi memendam kisah pilu masa silam karena sebagian wilayahnya kini direndam air imbas proyek Waduk Gajah Mungkur. Setidaknya karena masyarakat Baturetno bisa berbangga tak lama lagi memiliki rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). SMP 1 Baturetno, saat ini berstatus sekolah standar nasional (SSN) mandiri. Selain SMP 1 Baturetno, Wonogiri juga memiliki 10 SSN.
SMP 1 Baturetno meraih peringkat SSN pada tahun pelajaran 2005/2006. ”Sekarang sudah menjadi SSN mandiri dan akan menuju ke RSBI,” kata Juhardi Maryono, SPd, Kepala SMP 1 Baturetno.
Sekolah kebanggaan warga Baturetno ini menempati areal seluas kurang lebih 9.600 m2. Sekolah mempunya fasilitas memadai. Dari laboratorium bahasa, komputer, IPA, dan perpustakaan. Tahun depan bangunan perpustakaan akan direhabilitasi.
Tahun pelajaran 2008/2009, sekolah mampu menjaring 717 siswa. Mereka terbagi dalam 24 rombongan belajar (rombel). Masing-masing rombel rata-rata diisi 40-an siswa. Jumlah masih dirasa terlalu banyak. Sehingga mulai tahun pelajaran 2009/2010, kapasitas setiap rombongan belajar hanya 36 siswa. Sebagai sekolah favorit di kecamatan, SMP 1 Baturetno memang harus lebih selektif menjaring bibit unggul.
Meski lebih selektif memilah calon siswa, sekolah bukan semata menerima siswa cerdas dari kalangan mampu. Sekolah tetap menerima calon siswa pandai dari kalangan kurang mampu. Bahkan sekolah mempunyai program beasiswa bagi siswa cerdas tapi orangtuanya tidak mampu. Orangtua siswa memang sebagian dari kalangan buruh dan masyarakat kelas bawah lainnya.
”Sekolah punya program beasiswa prestasi dan miskin. Siswa dari kalangan tak mampu ini jumlahnya tak sampai 10 persen,” kata Juhardi.
MAHIR KOMPUTER
Ada satu hal yang membedakan SMP 1 Baturetno dengan sekolah umumnya. Juhardi berhasil menjalin kerjasama dengan lembaga pelatihan dan keterampilan (LPK) komputer. Siswa kelas 8 wajib mengikuti pendidikan keterampilan komputer selama satu tahun. ”Harapannya saat kelas 10 siswa sudah mahir komputer. Saat ini sekolah sudah diperkuat jaringan internet, yang bisa diakses gratis warga sekolah,” katanya.
BERAGAM PRESTASI
Sebagai sekolah pinggiran, SMP 1 Baturetno tak menjadikan prestasi mereka juga terpinggirkan. Banyak prestasi membanggakan diraih siswa. Misalnya tahun 2008 ini, siswa mereka menjadi wakil Jawa Tengah pada ajang OLimpiade Sains Nasional (OSN).
Sekolah kini punya tim OSN. Guru MIPA mempersiapkan sejak awal tahun. Bahkan sekolah menjairng calon siswa yang punya prestasi bagus di SD. Sejak kelas 7, siswa jempolan itu dibina untuk dipersiapkan dalam ajang OSN. Baik untuk tingkat kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah hingga nasional.
SMP 1 Baturetno juga punya atlet tenis yang menjuarai kejuaraan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) dan turnamen tenis junior.
Lulusan SMP 1 Baturetno juga banyak yang melanjutkan ke sejumlah SMA favorit di Solo, di antaranya SMA 1 dan SMA 3 Solo. Rata-rata nilai ujian nasional tahun lalu mencapai 7,65. Nilai rata-rata paling tinggi mencapai 9.
Juhardi punya resep jitu buat mendongkrak prestasi siswa. Siswa kelas 9 dipilah menjadi kelompok A (di atas standar), B (standar) dan C (di bawah standar). Siswa-siswa kelompok C mendapat pembekalan leboh dari kelompok A dan B. ”Ternyata hasilnya cukup signifikan. Pada tahun 2008 ini, dari 29 anak yang masuk katagori C, hanya 2 orang yang tidak lulus,” kata Juhardi.
Tak hanya urusan prestasi saja, budi pekerti dan moral juga menjadi perhatian sekolah. Pemantapan budi pekerti disampaikan dalam berbagai kegiatan. Misalnya, sewaktu sholat jumat berjamaah. ”Selain pelajaran agama, sekolah juga memberikan pembinaan mental di waktu-waktu tertentu,” ujar kata Juhardi.
SANKSI DAN HADIAH
Masalah ketertiban juga jadi hal yang diperhatikan di SMP 1 Baturetno. ”Tata tertiba ditegakkan di tiap kelas. Sehingga kalau ada anak-anak yang melanggar tata tertib ya terkena sanksi,” katanya. Sebaliknya reward diberikan kepada siswa berprestasi.
Satu hal yang sering menjadi masalah menurut Juhardi siswa yang membawa sepeda motor. ”Di pedesaan, sepeda motor merupakan barang yang mungkin bisa membuat mereka merasa bangga. Misalnya ada kecelakaan itu sering-sering membuat sekolah repot,” katanya.
Gangguan masalah juga datang dari maraknya tempat persewaan game di sekitar sekolah. Sehingga tak jarang ada siswa yang membolos hanya karena gandrung dengan permainan.
SMP 1 Baturetno tengah bersiap menuju SBI. Menurut Juhardi berbagai langkah berkaitan dengan hal itu telah diupayakan. Mulai tahun ajaran 2009/2010, kelas 7 menerapkan pembelajaran dengan pengantar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk mata pelajaran MIPA.
”Semua guru MIPA wajib berlatih bahasa Inggris dan komputer,” kata Juhardi.
MF ARIEF
BOKS:
Juhardi bukan penduduk asli Baturetno. Ia lahir di Klaten, 7 Juli 1951 silam. Ayah Juhardi seorang polisi hutan. Ia anak kedua dari enam bersaudara. ”Saudara saya yang pertama, ketiga dan keempat juga guru,” katanya.
Masa sekolah dihabiskan di SD Cawas Klaten, SMP 2 Sukoharjo dan SMA 1 Serang, Banten. Setelah menamatkan Sarjana Muda Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, ayahnya menasehati untuk tidak mengkuti jejak sang ayah. Sebagai pegawai Perhutani, tempat bertugas ayahnya memang sering berpindah-pindah. ”Terakhir Ayah bertugas di Bumiayu. Pada tahun 1985 Beliau meninggal,” kata Juhardi.
Juhardi baru menjadi guru sejak 1981. Kali pertama ia mengajar di SMP 3 Wonogiri hingga 2001. Ia setapak meningkat menjadi kepala SMP 2 Eromoko. Di Eromoko (2001-2004), SMP Karang Tengah (2004-2007), hingga dipindah ke tempat tugasnya sekarang SMP Baturetno.
Sebagai guru SMP, Juhardi cukup makan asam garam mengajar. ”Dukanya guru SMP, siswa masih seperti anak SD, yang belum bisa berkonsentrasi. Masih ingat betul waktu saya mengajar, anak-anak justru main sendiri atau tidak memperhatikan,” katanya.
Bagi Juhardi, duka tersebut menjadi tak berarti jika dikembalikan ke niat awal menjadi guru. ”Dari awal sudah punya hati nurani ingin mengabdi jadi guru,” katanya.
Pada pelatihan penulisan studi kasus yang digelar Direktorat Tenaga Kependidikan, di kawasan Puncak, Bogor, Agustus lalu, Juhardi menjadi salah satu peserta. Ia mengangkat peran serta sekolah dalam mendukung kemajuan sekolah.
Juhardi merangkul para pengusaha di Baturetno. ”Di sana banyak pengusaha bidang transportasi, furniture, pertokoan dan sebagainya. Tapi peran serta untuk kemajuan sekolah masih sebatas pada sekolah tempat anak-anak mereka belajar,” katanya.
Juhardi kemudian mengundang para pengusaha tersebut ke sekolah. Tamu penting yang juga diundang adalah pejabat Muspida dan dinas pendidikan kecamatan.
”Saya berharap para pengusaha itu membantu sekolah tanpa memandang anak mereka bersekolah di mana. Sehingga semua sekolah akan berkembang lebih maju lagi,” katanya.
Sejumlah prestasi menjadi unjuk bukti keberhasilan SMP 1 Baturetno. Kini sejumlah pengusaha mau membantu beasiswa anak berprestasi, dan mendukung kebutuhan atlet tenis yang sedang moncer.
MF. ARIEF
24 April 2009 13:13 WIB
Tuesday, 16 March 2010
POLLING PEMBACA |