Jakarta - Sekitar 93,8 persen siswa Sekolah Menengah Pertama Terbuka atau SMP-T tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Anak-anak berusia belasan tahun tersebut umumnya langsung bekerja membantu perekonomian keluarga.
Anak-anak tersebut mempunyai kondisi khusus, seperti lokasi permukimannya terpencil secara geografis, tidak mampu secara ekonomi, dan harus membantu orangtua bekerja. Berdasarkan data Departemen Pendidikan Nasional, hanya sekitar 6 persen siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
”Mereka terganjal kondisi sosial dan ekonomi sehingga tidak bisa melanjutkan pendidikan,” kata Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo ketika membuka Kegiatan Lomba Motivasi Belajar Mandiri Siswa SMP Terbuka Tingkat Nasional 2008, Senin (4/8) di Jakarta.
Jadi kuli bangunan
Minimnya murid SMP Terbuka yang melanjutkan pendidikan dialami Wakil Kepala SMP Terbuka Tegalwaru, Purwakarta, Jawa Barat, Kosasih. Di SMP Terbuka tersebut, yang melanjutkan pendidikan dapat dihitung dengan jari.
”Tahun ini, ada 27 anak lulus SMP Terbuka kami, tapi hanya tiga anak melanjutkan pendidikan. Selebihnya ikut saudara bekerja di kota sebagai kuli bangunan atau kerja di pabrik-pabrik genteng yang banyak terdapat di Purwakarta. Yang perempuan, sebagian dinikahkan,” ujarnya.
Lantaran banyaknya murid SMP Terbuka yang tidak melanjutkan sekolah, Bambang Sudibyo menegaskan agar murid diberikan keterampilan dan kecakapan hidup, selain materi akademis. Dengan bekal keterampilan tersebut, mereka dapat bekerja atau bahkan membuka usaha sendiri kelak.
”Keterampilan yang diajarkan sesuai kebutuhan lokal dan laku terjual di pasar kerja. Kalau tidak ada pasarnya, nanti tidak berkembang. Pamong harus perhatikan itu,” ujarnya.
Lomba Motivasi Belajar Mandiri Siswa SMP Terbuka Tingkat Nasional merupakan salah satu bagian dari para murid untuk unjuk keterampilan dan kemudian dinilai oleh juri.
Saat ini, terdapat 2.576 SMP Terbuka dengan tempat kegiatan belajar sebanyak 10.365 lokasi. Jumlah siswa sebanyak 306.749 orang. Mereka dilayani 30.763 guru bina di sekolah induk dan 16.671 guru pamong yang mendampingi pembelajaran siswa sehari-hari di tempat kegiatan belajar.
Jalur formal
SMP Terbuka merupakan upaya memberikan kesempatan belajar kepada anak usia SMP yang belum terlayani SMP reguler. SMP Terbuka termasuk jalur pendidikan formal.
”Layanannya, SMP Terbuka disesuaikan kondisi anak agar tidak menjadi beban,” ujar Bambang Sudibyo.
Murid SMP Terbuka belajar menggunakan modul dan media belajar lainnya di tempat kegiatan belajar seperti di tempat ibadah, rumah penduduk, balai desa, atau SMP induknya. Waktu belajar mereka fleksibel dan tidak ada iuran sekolah. (INE)
Sumber: Harian Umum Kompas
5 August 2008 07:50 WIB
Tuesday, 16 March 2010
POLLING PEMBACA |