Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri Universitas Hasanuddin, Makassar, menangkap 10 joki yang mendampingi peserta seleksi mengerjakan soal, Rabu (1/7). Di antara para joki itu, terdapat sembilan mahasiswa Institut Teknologi Bandung.
Jaringan joki SNMPTN itu terungkap setelah dua anggota Tim Monitoring dan Evaluasi SNMPTN, Abdul Rasyid dan Ilham Jaya, menangkap tangan seorang joki berinisial IS. Ia memberikan jawaban soal seleksi kepada kliennya, peserta SNMPTN berinisial An, Rabu (1/7) siang.
”Awalnya, kami mengevaluasi data para peserta SNMPTN dan menemukan bahwa IS adalah peserta tahun lalu yang lulus SNMPTN 2008. Menurut data kami, ia telah kuliah di ITB. Tahun lalu ia juga sudah lulus seleksi Jalur Nonsubsidi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Pada seleksi kali ini IS mengikuti seleksi untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.
Karena curiga, kami mengawasinya sejak awal ujian. Dan ternyata kami melihatnya mengoper jawaban soal seleksi kepada An,” kata Abdul di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (2/7).
IS kemudian dihadapkan kepada
”Dari pengakuan IS, kami berhasil menemukan beberapa orang joki. Seorang di antaranya adalah mahasiswa Unhas. Sembilan yang lain adalah mahasiswa ITB. Kami sebenarnya malu mengungkapkan hal itu karena memperburuk citra kami. Namun, itu harus diungkap untuk menghentikan praktik perjokian,” kata Paturusi.
Jaringan joki tersebut terungkap setelah kasus itu diserahkan kepada Kepolisian Wilayah Kota Besar Makassar. Rabu malam, polisi menangkap para joki dan pengguna jasa lainnya yang sedang berkumpul di salah satu hotel di
Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Makassar Komisaris Besar Burhanuddin Andi menyatakan, hingga Kamis siang penyidik telah menetapkan 10 joki, 6 pengguna jasa joki, dan Hr sebagai tersangka kasus pembocoran soal SNMPTN.
Dari pengakuan para tersangka, terungkap auktor intelektualis joki adalah seorang sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin berinisial Hr.
Di Bandung, Jawa Barat, panitia menangkap dua pelaku kecurangan SNMPTN. Kedua pelaku ini didapati menggunakan alat komunikasi canggih, salah satunya microchip mini yang ukurannya tidak lebih besar dari diameter koin Rp 100. Panitia juga menyita sejumlah alat bukti lain dari peserta. Alat-alat itu adalah dua telepon seluler, transmitter, dan kabel berwarna coklat-menyerupai warna kulit manusia.
Menurut Sekretaris Eksekutif Panitia SNMPTN Lokal Bandung Asep Gana Suganda, Kamis (2/7) sore, berdasarkan laporan, kemungkinan masih ada 13 pelaku lain yang berbuat serupa. Panitia juga menduga ada jaringan nasional yang terorganisasi.
(ROW/JON/SON)
Sumber: www.kompas.com
3 July 2009 10:27 WIB
Friday, 12 March 2010
POLLING PEMBACA |